Jumat, November 26, 2021

Keguguran

 

Kebahagiaan dan kedukaan hadir mewarnai hidup untuk lebih dalam mengenal Sang Pelukis Semesta. Satu tahun menikah, Tuhan mengizinkan akhirnya dua garis test kehamilan sebagai kado dalam pernikahan kami. Sebagai manusia kami benar-benar bersyukur karena akhirnya Tuhan menganugrahkan jawaban doa kami. Kabar kehamilan hadir setelah perjuangan melawan covid. Saat itu benar-benar menghibur hati kami setelah melalui banyak pergumulan. Kabar ini sungguh membahagiakan karena akhirnya Tuhan membuka rahim saya.

Pada waktu itu kami melihat ini benar-benar anugrah dari Tuhan. Kami melihat Tuhan adalah Tuhan yang mendengar doa kami. Masih teringat dalam doa malam waktu itu, “Tuhan, anak ini milikMu, pada waktuMu panggillah dia menjadi hambaMu yang taat mengerjakan panggilanMu.” Tidak disangka, pada kehamilan usia genap delapan minggu, Tuhan izinkan buah hati kami diambil Tuhan. Tuhan panggil dia, bukan untuk terus berkembang dan tumbuh besar mengerjakan panggilanNya suatu hari nanti, tapi dipanggil pulang. Ternyata kehendakNya atas anak ini berbeda dari yang kami doakan.

Dalam keadaan payah, sakit dan berjuang bangkit, kami belajar bersyukur dan terus mencari Tuhan dalam masalah ini. Tuhan apa yang Engkau ingin sampaikan melalui kejadian ini? Adakah kesalahan yang kami buat? Adakah hal yang ingin Kau ubahkan dari kejadian ini?

Dalam masa berkabung, Allah berbicara dengan jelas melalui kitab Amos.”“Sekalipun Aku ini telah memberi kepadamu gigi yang tidak disentuh makanan di segala kotamu dan kekurangan roti di segala tempat kediamanmu, namun kamu tidak berbalik kepadaKu,” demikianlah firman Tuhan. “Aku pun telah menahan hujan dari padamu, ketika tiga bulan lagi sebelum panen; Aku menurunkan hujan ke atas kota yang satu dan tidak menurunkan hujan ke atas kota yang lain; ladang yang satu kehujanan dan ladang yang tidak kena hujan, menjadi kering; penduduk dua tiga kota pergi terhuyung huyung ke satu kota untuk minum air, tetapi mereka tidak menjadi puas; namun kamu tidak berbalik kepadaKu,” demikianlah firman Tuhan.” Bukannya marah, karena Tuhan memberi jawaban tegas dan jelas seperti ini, respon kali itu sungguh membahagiakan. Kami berbulan-bulan sejak awal menikah bergumul kapan waktu terbaik untuk satu kota, hidup satu atap dan satu tanah untuk dipijak. Firman ini menguatkan inilah saatnya. Kami sungguh menanti-nantikan waktu Tuhan. Ternyata Tuhan memakai keguguran, masa-masa sulit sebelum ini lainnya, untuk meyakinkan orang tua dan banyak rekan kerja yang tidak rela ditinggal.

Bagaimana tidak, orang tua mana yang tidak akan terguncang ketika akan ditinggal anak yang selama ini dibesarkan. Bagaimana tidak, rekan kerja mana yang tidak terima karena orang yang selama ini sendika dhawuh (taat sepenuhnya) mau mengerjakan semua hal lalu harus pergi meninggalkan pekerjaan esensial yang banyak sekali. Dalam kesedihan kami, Allah menghibur kami dengan memperlihatkan bahwa Dia sungguh mengerti kesulitan yang kami alami dan kerindukan hati yang kami inginkan. Dia juga Allah yang mengenal lingkungan kami, yang cukup keras hati dan membutuhkan alasan kuat untuk sebuah keputusan besar (baca meninggalkan kota Semarang dan mereka). Mereka adalah orang-orang yang tidak menerima alasan “ini adalah kehendak Tuhan” atau “jawaban Tuhan untuk pergumulan kami adalah ini”. Mungkin orang tua tidak separah ini. Tapi Tuhan lebih tahu kondisi tempat kerja.

Hari itu, Allah benar benar memberi jawaban tidak hanya untuk kami, tapi juga untuk semua orang di sekitar kami. Kami sungguh melihat Dia adalah Allah penguasa semesta. Dia tidak perlu menjawab dengan banyak kalimat. Hari itu hanya dari tiga ayat, Dia menjawab telak kepada semua pihak dalam pergumulan ini. Keluarga maupun kolega semua sejak awal juga mengerti bahwa kami harus hidup sekota, hanya seperti tidak kuasa untuk mempercayai Allah untuk kehidupan kami setelah pindah. Seketika, kesedihan akan keguguran, diubahkan Tuhan menjadi sebuah kekuatan bagi kami. Yeay, sebentar lagi kami akan serumah!

Melalui peristiwa ini, kami belajar, Allah mengenal kami dan seluruh orang di sekitar kami. Awalnya kami khawatir akan keputusan besar ini, bagaimana memberanikan diri membuat keputusan besar tapi semua orang dalam lingkar terdekat kami mengerti dan menerima dengan lapang dada dan bahkan mendukung kami. Kami bisa saja koboy-koboyan langsung berkeputusan untuk pergi, tapi Tuhan mengajar hal yang bernama kebijaksanaan. Kami tetap pergi tapi dalam kondisi sukacita dan semua orang melihat dengan jelas bahwa ini keputusan Tuhan. Hari ini pada akhirnya kami bersyukur karena melihat mereka mengakui ada Tuhan yang mengatur hidup kami, paling tidak itu, walau beberapa kolega belum bisa terima.

Hal kedua, Tuhan memakai semua peristiwa pahit dalam hidup untuk menyatakan pada banyak orang bahwa Tuhan menegur untuk kembali bersekutu dan hanya menaati perintahNya. Sejak awal tidak ada keinginan untuk tidak taat mengabdi di Tana Timor, tapi melalui Firman Tuhan ini sekitar kami kembali melihat bahwa keputusan kami semata-mata hanya menuruti perintah Tuhan. Hidup adalah anugrah, keluarga adalah anugrah, begitu juga dengan pekerjaan, semua semata-mata anugrah. Di sisi lain, Tuhan juga berkuasa memberi, juga berkuasa mengambil. Allah menggelar sebuah pelajaran, apapun pemberian Tuhan, kehendakNya adalah menaati perintahNya. Kali ini Tuhan mengizinkan kehilangan untuk mencelikkan bahwa ada perintah yang harus segera kami kerjakan. Kami bersyukur bahwa Tuhan tidak hanya berbicara kepada kami, tapi juga kepada banyak orang.

Terakhir, kami melihat, kami bersukacita! Tiga ayat ini menghadirkan keyakinan kepada keluarga (terutama) yang sekaligus meneguhkan kami. Sekali lagi kami melihat, jika Tuhan sudah buka pintu, Dia akan selesaikan! Keyakinan yang kami pegang sejak berelasi sebagai kekasih hingga hari ini semua dalam kontrol pengaturan Tuhan. Anugrah dan kasihNya terus berjalan beriringan. Walau harus berputar 40 tahun di padang gurun, Bangsa Israel tetap berakhir di Tanah Kanaan. Kami tidak berharap 40 tahun, kami berharap masa penantian ini segera berakhir. Kami hanya percaya, Dia akan membawa kami ke Tanah PerjanjianNya.

Akhirnya, kembali lagi, semua adalah dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia. Bukan kita yang menentukan hidup kita. Bahkan ketika Tuhan sudah berkehendak, bukan kita yang menentukan jalan prosesnya. Terkadang, jalan itu tidak sesuai rencana manusia. Kita tidak sedang menyombongkan diri karena mengerti kehendakNya lalu membantuNya dengan membuat rencana sendiri. Tapi kita mau sama sama percaya, Dia akan mengumpulkan serpihan hati yang patah dan memberi pengharapan baru. Yesus memang tidur saat badai, Yesus ada dalam hidup kita tapi bukan berarti tidak akan ada badai. Dan walaupun ada badai, Yesus ada dalam hidup kita. Kiranya makin hari, kita makin menjadi hamba yang sesungguhnya hambaNya. Ternyata perjalanan menyangkal diri tidak mudah yah.. Tuhan memberkati.. (JnT)

Minggu, September 30, 2018

Mold me

Grace alone which God supplies
Strength unknown He will provide
Christ's in us, our cornerstone
We will go forth in grace alone

Lagu ini sungguh mengena untukku akhir2 ini. Semua pergumulan ini dimulai dari pergumulan kesehatan, merembet ke pergumulan pekerjaan 1 lalu ke pekerjaan 2, merembet lagi ke pergumulan lainnya.., maksudku ada drama di pekerjaan kedua yg sempat mengesalkan. Ouch.. Lelah lo bener! Rasanya pingin teriaaaakkkk... Aku ga sehebat itu Tuhan untuk menanggung ini semua. Semua ini terlalu sesuatu..

Pergumulan kesehatan yang sempat membuatku sangat lemas, akhirnya mengajariku untuk bersyukur dalam musim apapun di hidupku. Bukan perkara mudah! Tapi aku memang mengakui ada kekuatan surgawi yang nyata kurasa. Sedangkan pergumulan pekerjaan ini sangat sangat menyita perasaan.

Aku belum bs menceritakannya dengan baik karena belum ada akhirnya, belum tahu nantinya seperti apa. Jadi masih perlu berdoa dlu. Yang pasti aku sebagai manusia, yang perempuan jg, ingin sekali segera selesai dua part ini. Karena sangat drama dan menguras emosi. Rasanya tersandera kalo boleh pinjem istilah Ibu. Aaah, Tuhan sudah hampir 1 tahun loh perjuangan ini dimulai.., saya akan belajar lebih percaya lagi bahwa Engkau sendiri yang akan bertindak.

Let Your will be done, Lord.. 🙏

Rabu, September 05, 2018

Penghiburan part 1

Beberapa waktu lalu, Tuhan mengizinkan saya mengalami patah hati. Perasaan yang tidak menyenangkan karena sikap seorang pria. Inti permasalahannya adalah kami sama sama berdoa, lalu mendapati hal yang sama, tapi dia memilih untuk tidak menaatinya. Jadilah ak ditinggalkan dalam kebimbangan antara realita dan jawaban doa. Aku sempat tidak terima, ada perasaan "Ha.. mudah sekali ya tidak taatnya..!" Lalu hanya berselang SATU MINGGU saja dia sudah dengan perempuan lain, yang tentunya jauh lebih langsing, seksi daripada akyu... Hahaha,. Cukup tahulah ya.. Dan sudah tertebak juga kisah selanjutnya seperti apa..

Kali ini aku hanya ingin menyoroti dari sisiku saja. Jelas saya merasa seperti dipermainkan! Dia pikir ini hati seperti taman bermain mungkin ya. Aku di kala itu berusaha mendoakan dengan serius di hadapan Tuhan eh malah begini. Sakit loh hatinya.. Nangis saja yang bisa kukerjakan, sampai pernah kejadian lima hari sulit tidur. Padahal load kerjaan dan pelayanan cukup banyak. Dan betul saat harus berangkat KMdNM di Bandung saya teler seteler telernya. Sakit. Demam gitu. Melihat dan merasakan sendiri kekacauan ini, saya berbulat tekad memutuskan move on. Hal yang membuat saya mudah sekali untuk move on adalah sebuah pemikiran ini, bagaimana aku yakin berjalan dengan pria yang takut akan Tuhan jika perintahNya kemarin saja dengan mudah dia abaikan. Saya percaya pemikiran ini bukan berasal dari diri saya sendiri, tapi dari anugerah Roh Kudus saja. Hal luar biasa setelah itu adalah muncul rasa damai sejahtera yang tak terjabarkan dan perasaan iba, kasian dan akhirnya bisa mengampuni pria tersebut. Keajaiban yang terjadi saat itu adalah perubahan suasana hati yang bertolak belakang. Hal ini membuat saya tahu bahwa keputusan move on adalah keputusan tepat.

Hal menarik lainnya adalah bagaimana Allah melalui FirmanNya berbicara kepada saya! Di tengah semua kesedihan ini, FirmanNya yang saya terima melalui saat teduh saya selalu mengatakan, "jangan takut tetap percaya walau dalam badai", "badai itu pasti akan berlalu, Tuhanlah penguasa alam", dan "AKU akan menyediakan penghiburan bagimu". Dari situ saya tahu bahwa Allah peduli dengan setiap pergumulan hidup saya.

Sampai pada akhirnya saya belajar mempercayai itu dan kemudian boleh terlepas dari kesedihan itu dengan sebuah harapan. Harapan saya bertumbuh lebih dewasa dalam hal percintaan, harapan bahwa saya akan dapat melalui badai, harapan saya akan mendapat penghiburan!

Kemudian hidup membawa saya kepada sebuah peristiwa...

-to be continued-

Selasa, Maret 27, 2018

Keseriusan

Malam ini entah mengapa terjadi pembicaraan mengenai pasangan hidup dengan Ibu. Saya merasa senang dan terberkati setelah pembicaraan ini berakhir. Memang awal mulanya karena mengenang alm. Bapak, tapi lama lama saya mendapati diceramahi oleh Ibu. Hahahaha.

Bermula dari bagaimana pertemuan Bapak dan Ibu dulu semua ini bermula. Waktu itu Bapak menjadi pembicara sebuah acara dimana Ibu saya menjadi sie acaranya. Pertemuan awal itu menumbuhkan benih cinta di hati Bapak. Waktu berlalu, Ibu melihat kesetiaan dan ketulusan cinta Bapak. Bapak butuh waktu lama meluluhkan Ibu. Bapak berbeda 3 tahun. Jadi beliau sudah bekerja saat bertemu Ibu yang masih mahasiswa. Saat itu Bapak betul betul berjuang menunjukkan keseriusannya. Sampai sebuah perjuangan luar biasa naik motor ke Rembang dari Semarang, demi mengobati rindu karena Ibu sedang KKN di sana. Beberapa tahun berlalu akhirnya Ibu luluh. Padahal saat itu Ibu didekati banyak lelaki. Tapi Bapak tidak gentar, ia percaya dengan pilihannya.

Ketidakgentaran itu terbukti, bahkan di saat lelaki lain terus berusaha menikung, Bapak tetap membawa pengharapannya dalam doa. Bapak juga terus menunjukkan keseriusannya padahal waktu itu Ibu sempat bekerja di Jakarta dan Bapak di Semarang. Karena jika tidak dijagai, para lelaki itu juga mengejar Ibu sampai ke Jakarta. Jadi saat itu Ibu didekati 4 laki laki bersamaan. Dua dari mereka sampai sengaja mencari kerja di Jakarta, dua lagi masih di Semarang, salah satunya Bapak. Ibu tipikal sepertiku, mana yang serius dan menunjukkan itu yang akan dipilih. Jadi walaupun sudah menjalin hubungan dengan Bapak yg cukup spesial, tapi karena jalur kuning belum melengkung, Ibu tidak menuntup kemungkinan untuk lelaki lain. Dia bersikap begini selain untuk mempelajari sikap lelaki, juga untuk menguji hatinya di pria mana Ibu sangat cinta. Singkat cerita Ibu pusing. Keempat laki laki itu karakternya baik, pekerjaan baik, semuanya sudah menunjukkan cintanya dan keseriusannya, Ibu harus segera memilih! 40 hari beliau akhirnya berpuasa. Dan hatinya, cintanya tidak beralih dari Bapak. Selama masa itu, Bapak tidak berusaha menonjolkan diri, dia bersikap sederhana, dia juga tidak gentar dalam keseriusannya. Maka Ibu memilih Bapak...

Setelah kisah ini berakhir Ibu berpesan, "nduk, pria yang benar benar mencintaimu pasti akan berjuang untukmu, untuk cintanya, karena itu nalurinya. Walau sang wanita sepertinya diam saja, dia akan terus berjuang menunjukkan cintanya dengan cara yang dimengerti pujaannya. Jadi jika suatu hari nanti ada pria yang serius denganmu, sudah pasti dia akan melakukan hal yg serius juga. Sesempit apapun waktunya, sesulit apapun kondisinya, jika pria itu sudah mantap, dia akan tetap berjuang! Ibu berdoa kamu menemukan pria itu."

Saya hanya bisa terdiam, percakapan ini seperti sebuah pesan mendalam untukku, juga sebuah teguran. Saya tidak sepantasnya menunggu pria yang saya tidak bisa lihat keseriusannya. Saya mau percaya Tuhan akan berikan pasangan yang terbaik, yang serius, pada waktuNya, yang mungkin belum sekarang.

Hmmm, setelah kemarin masalah pria yang baik dengan semua org, skrg pria yang kurang serius. Yang sabar ya ta.. :)

Selasa, Februari 06, 2018

Ya Sudahlah...

Memang benar kalau suka atau disukai dengan seseorang yang baik dengan semua orang, hangat dengan semua orang itu SULIT! Kita tidak pernah tau kapan sikapnya berbeda ke kita, karena dengan semua orang dia baik! Hal ini menjadi lebih sulit ketika...

Aku bukan tipe perempuan yang bisa menyampaikan perasaanku di depan orang. Aku tegas, berwibawa dalam organisasi (katanya), cukup profesional dan 'cak cek' untuk sebuah pekerjaan. Tapi aku menyadari aku tidak tegas dengan perasaanku, dengan hatiku. Pengalaman tidak pernah pacaran dan tidak pernah merasa kurang kasih sayang mungkin. Aku tidak pernah tahu bagaimana mengutarakan perasaan. Bagaimana mengatakan dengan cara yang baik tapi tidak memalukan, bagaimana mengutarakan dengan sikap dan tindakan, itu hal yang aku perlu pelajari. Itu sesuatu yang sulit juga untukku. Aku terbiasa untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya. Karena di keluarga keraton, marah tidak boleh nampak marah, senang juga tidak boleh terlalu senang. Itu pelajaran yang selalu diajarkan di rumah. Padahal aku aslinya sanguin sekali, alias rame banget. Lagipula di rumah aku merasa sangat disayang, perhatian dari orang tua dan adik semata wayang sudah sangat cukup bagiku. Jadi sering kali aku merasa aku belum butuh perhatian dari orang lain. Dan parahnya kalau ada orang lain yang perhatian denganku, aku menganggap itu wajar karena kita sesama manusia yang saling tolong menolong. Aku tidak mengerti bagaimana nanti pasanganku menunjukkan perasaannya sampai bisa membuat ku mengerti. Semoga dia cukup sabar dan mau membantuku mengerti bagian ini.

Apalagi ketika laki laki itu adalah orang yang baik dengan semua orang, aku akan merasa bahwa dia tidak ada perasaan apapun dengan ku. Aku tidak bisa membedakan sikapnya itu apakah hanya untukku atau juga dengan semua orang. Walaupun akupun juga baik dengan semua orang, tapi ada beberapa sikap yang memang aku simpan hanya untuk laki laki yang aku suka. Misalnya, aku tidak akan menegur laki laki saat dia salah ketika aku tidak suka dengannya. Aku akan membiarkannya, karena bagiku dia bukan siapa siapa untukku. Aku juga tidak akan menceritakan kesedihanku kepada laki laki. Hanya sering kali aku tidak tahu kapan aku diperlakukan spesial oleh laki laki. Parah sekali ketidakpekaanku.

Jadi ketika sekarang, aku suka dan sudah nyaman dengan seorang pria, yang notabene dia baik dan hangat dengan semua orang, aku bingung! Aku suka dengan caranya memperlakukan banyak orang. Tapi aku tidak tahu kapan dia memperlakukanku spesial. Apalagi aku tidak bisa mengutarakan perasaanku. Jadi pilihannya kalau bukan mengatakannya ya menunggu galau berkepanjangan. Tapi kalau memang makan waktu, lebih baik saya berlalu saja. Aku juga punya banyak hal yang bisa aku kerjakan. Karena inilah saatnya aku melakukan semua hal yang sudah kupelajari dan doakan.

Jodoh tidak kemana. Jodoh juga merupakan penolong dari Tuhan untuk kita. Aku percaya dia akan menerimaku apa adanya dan bisa memahami sikapku.

Jadi ingin tertawa sendiri, dulu pernah berdoa minta pria yang baik, eh setelah ketemu malah baiknya ke semua orang sampai ga tau aku spesial atau tidak. Ya sudahlah...

Senin, Februari 05, 2018

Perempuan Butuh Kepastian

Saat aku kuliah kedokteran satu hal yang aku syukuri adalah memiliki beberapa teman baik, tidak hanya dari sesama mahasiswa tapi juga dari dosen. Salah satu dosen yang masih dekat sampai hari ini adalah dr. Nyoman Suci, Sp. PK. Beliau sangat lucu dan ramai. Hahahaha.. Kalau ketemu beliau aku seperti bertemu kakak perempuan tertuaku.. Beliau selain ramah dan lucu juga sangat pintar. Beliau lah yang menguatkan hatiku saat aku menangis di kantornya tentang diagnosis thalasemia. Dan hari ini aku ingin menceritakan sebuah cerita tentang hidupnya.

Bu Suci, begitu kusapa dia, memang memiliki perawakan membumi sejak kuliah. Dia memang dikenal sebagai mahasiswa yang aktif, pintar dan ramai. Semua orang mengenalnya begitu. Tak heran jika ada beberapa laki laki yang mengaguminya diam diam. Padahal waktu itu beliau juga sudah memiliki pacar. Waktu terus berlalu, akhirnya beliau sampai juga di percoassan. Satu cerita yang beliau ceritakan ini benar benar tidak bisa aku lupakan. Saat itu beliau sedang jaga malam. Bu Suci sudah memiliki pacar sebelumnya, yang aku pun tidak jelas siapa. Tapi entah mengapa malam itu, teman seangkatannya, yang saat itu juga sedang jaga malam bersama, menghampirinya. Berbicara beberapa kalimat lalu menanyakan sesuatu. "Suci, kamu mau menikah denganku?" HAAAA! Sontak Bu Suci kaget! Tapi pada saat menceritakannya beliau tertawa terbahak bahak. Bu Suci heran sekali, pacaran aja tidak pernah langsung mengajak nikah. Bu Suci lalu bingung lha nasib pacarku bagaimana. Beliau hanya bertanya ke laki laki, "Apakah kamu serius?", laki laki itu berkata, "Ya."

Lalu Bu Suci kemudian mencari cara memberitahu pacarnya. Beliau akhirnya menanyakan keseriusan pacarnya, karena sekarang ada laki laki yang mengajaknya menikah. Ternyata pacarnya belum terlalu serius. Padahal sudah beberapa waktu mereka pacaran, tentu tidak sebentar. Singkat cerita Bu Suci menerima pinangan teman seangkatannya dan masih romantis sampai hari ini. Beliau berdua sekarang menjadi dosen saya di Fakultas Kedokteran Undip.

Dari cerita ini, aku merasa bahwa perempuan hanya butuh kejelasan. Tidak peduli sudah berapa lama mengenal, tapi jika tidak ditantang satu pertanyaan itu, maka selamanya semua kenangan itu hanya untuk dikenang saja. Saat ini aku sungguh merasakannya. Ketika ada laki laki yang kemudian berani meminang, dan memang dia tidak parah sekali hidupnya, tentulah akan kuterima. Aku ingin hidupku sempurna, merasakan sebuah pernikahan dan memiliki anak kelak. Mengingat usia, aku merasa sudah saatnya memiliki calon suami. Karena perempuan hanya butuh kepastian!

Sabtu, Oktober 21, 2017

BELAJAR

Hari ini aku merasa bersyukur karena dokter pembimbingku puas dengan hasil pekerjaanku. Hasil akhirnya benar, dan sesuai dengan kemauan beliau. Wah, kalau begini bisa dipercaya pasien lainnya. Puji Tuhan.. Semoga dengan ini saya bisa cepat pulang ke Semarang.

Pengalaman di Bekasi dan RSPAD benar benar membahagiakan. Saya merasa dapat banyak ilmu dan bisa diterapkan semuanya. Dokter dokternya tidak pelit ilmu, apapun yang saya tanyakan pasti dijawab dengan baik dan lengkap. Berbeda ketika saya koas dulu. Sungguh saya merasa banyak ilmu yang drahasiakan dan saya harus belajar sendiri. Puji Tuhan karena di sini berbeda.

Sikap tenaga medis yang seperti ini sanat dibutuhkan oleh banyak pengajar. Dengan tujuan tidak menjerumuskan anak didik, dan akhirnya banyak terapi yang benar diberikan kepada masyarakat. Angka malpraktik akan menurun karena setiap dokter mumpuni dan berkualitas. Tapi seringkali yang didapati banyak dosen yang arogan dan egois, tanpa merendahkan siapapun. Arogan dalam artian merasa hanya beliau yang paling benar, padahal bisa jadi mahasiswanya baru saja membaca jurnal terbaru dan ada revisi dari ilmu medis yang lama. Egois di sini artinya dia tidak mau membagi ilmu karena jika mahasiswanya mnjadi pintar maka semua pasien akan berpindah ke mahasiswa ini dan akhirnya pendapatannya berkurang. Tapi di atas itu semua saya menghormati setiap dosen saya, karena tanpa mereka saya juga tidak bisa menjadi seperti sekarang. Namanya juga manusia banyak yang berbeda beda. Mari melihat bagian ini dengan pandangan bahwa tanpa dosen seperti itu, saya juga tidak mungkin menjadi tekun dan memilliki daya juang dan daya ingin tahu yang besar.

Di atas itu semua, kita memang harus terus belajar, dari manapun sumbernya. Karena dengan cara seperti itu kita menjadi lebih bijak. Semakin saya belajar, semakin banyak yang saya tidak tahu.
Selamat belajar!

Belas Kasihan

dr. Prasarita Esti Pudyaningrum Hidup di dunia penuh tuntutan, target tinggi, dan penuh dengan ekspektasi melampaui batas dari orang lain ...