Rabu, Maret 29, 2017

AKU DIBUAT NOL OLEH TUHAN

Dengan terisak dalam doa, "Tuhaaaaan, mengapa ujian ini tidak selesai selesai?"

Entah mengapa dalam tiga bulan ini, hidup Klara terasa seperti sedang digilas. Banyak kejadian menyesakkan yang terjadi dan menguji iman. Rasa rasanya alam seperti ingin melihat masih bisakah dia melihat kebaikan Tuhan dalam setiap ujian yang dihadapinya. Semua bermula saat jas hujannya hilang.

Malam akhirnya datang bersamaan dengan lelahnya tubuh karena pasien datang tak henti di jam jaga siang itu. Klara bersama tim sampai sangat sering terdengar saling bertukar semangat untuk saling menguatkan satu sama lain. Akhirnya jam jaga itu selesai juga dan bisa istirahat. Tapi tak beruntung malam itu si Klara. Ketika dia hendak pulang saat mengambil motornya, dia kaget karena jas hujannya raib. Puji syukur malam itu tidak turun hujan jadi dia tidak kehujanan sampai ke kos. Tapi ada hujan deras bercampur petir dalam hatinya, jas hujan basah yang diletakkan di motor bisa bisanya diambil tanpa izin alias dicuri. Separah inikah masyarakat? Malam itu dia pulang dengan marah dan rasa lelah luar biasa tapi tak bisa berbuat apa apa. Akhirnya dia istirahat berusaha memaafkan apa yang terjadi. Tapi keapesan belum selesai, esoknya vertigonya kumat, dan dia harus terkapar saat jaga siang hari itu.

Kepadatan waktu kerja dan kelelahan membuat rasanya ingin berlibur dengan senang tapi memang sepertinya Klara belum diizinkan mengalami itu. Liburan berlangsung dan berakhir dengan keluh kesah karena banyak alasan dan dari banyak orang. Kembali bekerja masih dengan suasana suntuk tapi berjuang untuk tetap mensyukuri apa yang ada.

Tapi apa ada, setelah tahun baru, banyak sekali pasien bahkan sampai 40 pasien dalam satu shift, itu memperburuk kondisi tubuh Klara. Singkat cerita akhirnya dia jatuh sakit sampai harus menginap di Rumah Sakit. Klara yang adalah seorang dokter, merasa panas tubuhnya meningkat saat jaga malam. Sampai akhirnya dia mengukur suhu tubuhnya sendiri dan mendapati suhunya mencapai 40 derajat Celcius! Karena itu dia memutuskan darahnya diambil untuk melihat apa hasilnya. Dan benar ada tifoid! Dia perlu mondok untuk mempercepat proses penyembuhan walaupun awalnya dia berpikir untuk dipasang infus saja di kos. Tak mungkin kan terpasang infus lalu keluar berjalan ke warung untuk membeli nasi campur? Hahaha akhirnya diputuskan untuk mondok saja.

Tapi sepertinya musibah belum juga selesai! Beberapa hari sebelum ulang tahunnya dia ditipu orang sampai tabungan yang dia punya yang awalnya Klara kumpulkan untuk sekolah hilang oleh penipu itu. Dua puluh satu juta hilang meninggalkan perasaan kecewa karena terlalu bodoh seperti itu. Pelajaran besar sekaligus meninggalkan pertanyaan, "Tuhan apa yang salah dengan saya? Mengapa hidup saya berjalan begitu pahit akhir akhir ini?" Kado perih yang menjadi pelajaran berat saat ulang tahun. Sampai kapankah keluguan dan perasaan mudah percaya ini dimanfaatkan oleh orang lain?

Belum hilang perih itu, akhirnya dia mendapat ujian lagi dalam hal keprofesionalitasannya. Sampai sampai Klara harus menceritakan sebuah kronologis waktu jaga yang ceritanya sudah diganti alias Klara difitnah hingga nampak bersalah.

"Tuhan mengapa ujian ini tidak selesai selesai?"
"Mengapa Engkau izinkan hal hal buruk ini terjadi beruntun?"
"Apa pelajaran yang sedang akan aku dapatkan?"
Satu yang Klara pikirkan, dia tidak boleh merasa trauma dengan berusaha memaafkan semua hal yang terjadi. Berusaha membesarkan kapasitas hati! Berusaha melihat bahwa kebaikan Allah masih jauh lebih besar dibanding semua masalah ini. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa hati ini terasa lelah. Daya sudah tak ada. Bahkan untuk bangkit itu terasa susah. Takut takut akan mengalami hal hal buruk lagi, bagaimana jika tetap terkapar saja?

Tapi mungkin pengalaman ini mengajarkan, sebagai manusia Klara harus belajar mengandalkan kekuatan Tuhan. Klara harus dinolkan supaya mengerti dia tidak punya kekuatan cukup untuk tetap kuat setiap harinya. Sampai akhirnya Klara bisa berkata "jika hidup ini berlangsung semua memang hanya karena Dia!"

Akhirnya, Klara berkata dalam hati kecilnya, "kamu tidak sendiri, mari kita hidup tidak dengan anggapan kita kuat, karena kita harus mengandalkan kekuatan dari Tuhan selamanya."

Selasa, Juli 12, 2016

Bifurcatio !

Jekulo, 12 Juli 2016, di kamar bagian depan Rumah Dinas Puskesmas. 

"We accept the love we think we deserve."  Stephen Chbosky.

"Aku tidak bisa memungkiri bahwa pikiranku bermain main terus dengan sebuah permainan yang bernama cinta. Dia terus memikirkan permainan cinta yang lalu, yang berakhir tanpa kabar, tapi juga terus mencari kemungkinan pada permainan cinta yang baru. Berjam jam pikiran ini bermain, tak terasa sudah pukul 02.00 dini hari, tenaga dan badan akhirnya melemah, dan kesadaran memutuskan untuk mengakhiri permainan dengan tidur. Wow! Tak disangka ternyata tidak bisa tidur rasanya lelah sekali. Sampai terucap bahwa untuk bisa sekedar tidur itu adalah sebuah anugrah. Tapi merupakan hal yang menyebalkan apalagi ketika tidak bisa tidur karena hal yang gampang tapi rumit, bernama cinta."

Ada dua hal yang mengganggu pikiranku, si perempuan. Hal pertama, sepertinya si perempuan masih terjebak dalam permainan cinta lama yang masih sering ia pikirkan. Kisah ini menceritakan ada seorang perempuan dan laki-laki yang berhubungan cukup lama, tapi tidak intens. Banyak hal terjadi yang membuat si perempuan mempertanyakan tentang kebenaran perasaan sang laki laki kepada dirinya. Tiga tahun cukup dirasa bagi si perempuan untuk segala ketidakjelasan. Maka ia memutuskan untuk mengakhiri semua. Hanya si perempuan menyadari sepenuhnya bahwa dia masih sering melihat ke belakang. Kalau kata anak zaman sekarang, dia masih belum bisa move on. Ouch! Bagi si perempuan kisah cintanya yang lalu cukup menyenangkan walau banyak penderitaan. 

Hal kedua yang mengganggu adalah kisah terbaru. Ada pria lain yang datang dalam hidup si perempuan. Hanya saja sepertinya pria ini masih benar benar mencari pasangan yang tepat, sehingga dia menyambut setiap wanita yang dikenalkan kepada dirinya. Ow, perempuan ini ternyata cemburu. Dia menyadari bahwa dia tidak ingin diduakan. Dia ingin menjadi seseorang yang tidak dipilih. Tapi mungkin pria ini tidak menyadarinya. Pria ini cukup mengesankan walau nampak aneh. Pintar tapi sering tidak nyambung saat berbicara. Tampak berani tapi aslinya penakut. Jika bersama dengan teman temannya cukup ramai, tapi jika bersama si perempuan menjadi seperti "kethek ditulup" alias diam seribu bahasa. Diam diam perempuan ini menyadari bahwa dia mulai belajar membuka hati. Tapi sepertinya dia teringat akan kisah terdahulu, dia takut disakiti lagi. Mungkin sebuah lagu ini dapat menggambarkan isi hatinya:
awalnya dari pesona
yang sengaja kutebar untukmu
walau hanya sesaat saja
dirimu sudah menebar rindu
untukku

bukannya aku menahan hasrat
ataupun memberi harapan
hati ini juga menyambut kasihmu

kini kau hadir untukku
setiap saat bila ku mau
taukah kamu mengapa
ku tak pernah membalas kasihmu

Besar kemungkinan perempuan ini ingin membalas kasih dari sang pria, dengan sebuah keseriusan yang ditunjukkan mungkin semua dapat berjalan dengan cepat. Hanya tentu untuk mendapatkan sebuah kemantapan membutuhkan waktu, hikmat, dan pertimbangan yang matang.

Lalu si perempuan ini teringat akan bahan dari saat teduh paginya hari ini. Judulnya "Karena Cinta", diceritakan ada sesosok Yakub yang rela bekerja tujuh tahun dan tujuh tahun lagi kepada Laban untuk benar benar mendapatkan seorang Rahel seutuhnya. Karena cinta Yakub berkata "tetapi yang tujuh tahun itu dianggap beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel." Melalui saat teduh ini si perempuan diingatkan bahwa menunggu seberapa lamanya tapi jika memang karena cinta dia akan rela melakukannya. Walau mungkin sang pria masih berusaha menetapkan hati, tapi melalui saat teduh ini si perempuan diingatkan untuk melakukan apapun karena didorong oleh kekuatan cinta. Tidak banyak hal yang bisa dilakukan oleh perempuan ini selain berkomunikasi secara wajar cenderung sulit, berdoa dan menyelidik hatinya sendiri, perasaannya sendiri. Besar harapannya, bahwa ada kekuatan Pencipta Semesta yang turut bekerja dalam proses ini. Karena perempuan ini benar benar menyadari bahwa dia tidak bisa mengatur hati dari pria ini. Dia perlu belajar rela melepaskan semua jika suatu saat dia menyadari bahwa dia bukanlah pilihan itu. Karena itu dia menyadari peran Sang Khalik sangat besar terutama untuk menjaga hatinya, supaya tidak menjadi terlalu terluka tapi dapat kembali membuka hati untuk kemungkinan lainnya.

Yup betul, bahwa kita menerima cinta yang kita rasa kita pantas menerimanya. Ketika perempuan ini memutuskan untuk membuka hati untuk sang pria dan menutup bab tentang sang laki laki, mungkin dia merasa itu yang terbaik untuknya sekarang. 

Senin, Juni 27, 2016

Sempurna!


Jekulo, 27 Juni 2016, di kamar belakang, cukup dingin dan gelap, mampu membuatku berpikir.

Entah sejak kapan hal ini sudah terjadi, tapi hari ini aku menyadari ada yang salah dengan diriku. Awalnya hanya sebuah perasaan yang aku tau itu salah, lama lama perasaan ini menganggu, membuatku tidak dapat tidur. Dan tidak sampai situ saja, aku merasa ingin menangis dan membutuhkan sebuah pelarian untuk meluapkan perasaanku. Lantas aku menanyakan sebuah pertanyaan sederhana yang jawabannya tidak mungkin sederhana, "aku kenapa?" Sejam di kamar setelah merujuk pasien cukup membuat kepalaku berpikir terus, padahal hati ingin sekali untuk tidur. Aku kenapa?

Lama aku berpikir.. Mencari akar permasalahan yang menyesakkan dada. Kepalaku menuntunku untuk mendengarkan sebuah lagu, liriknya mengesankan "memang tak mudah tapi ku tegar menjalani kosongnya hati". Dari lirik ini membawaku kepada sebuah keingintahuan untuk mencari quote quote yang siapa tahu dapat sedikit menentramkan hatiku. Nah betul sesuai seperti dugaanku. Aku ketemu! Ada sebuah rangkaian kata yang dapat menggambarkan kesalahanku dan perlu buru buru aku selesaikan secara pribadi.

Perfeksionisme adalah sebuah kekerasaan terhadap diri sendiri dalam tingkat yang paling tinggi. Wow! Aku telah dan sedang melakukan sebuah kejahatan kepada diriku sendiri. Sungguh terlalu! Banyak standard yang aku kenakan dan dikenakan oleh orang lain terhadap diriku! Hal itu sangat menyebalkan! Aku perlu menyadari standard standard apa saja yang sedang aku kenakan dan sebenarnya itu menjadi batu sandungan untuk diriku sendiri. Saat ini ada beberapa yang terbersit. Tentang A, B, C, ... Wah daftar ini ternyata bertambah terus. Ternyata banyak! Ibaratnya tubuh ini diikat dengan tali dari banyak sisi dan akhirnya aku tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa menemukan keinginan terbesarku apa.!

Lagi! Aku perlu mendalami siapa diriku sendiri dalam terang Roh Kudus., karena hanya Dia yang dapat menolongku, karena hanya Dia yang mengerti seutuhnya diriku! Aku perlu meningkatkan rasa syukurku dan berani, yah, berani mengambil kesempatan dan melakukannya dengan penuh kesadaran bahwa aku tidak bisa melakukannya sendiri. Daya intelektual ini sekali kali perlu diistirahatkan dan mengembangkan kemampuan berimajinasi dan kemampuan menjadi bahagia! Sepertinya aku lupa.

Terutama ketika aku sedang berusaha mengenal seseorang baru yang datang saat ini. Aku menyadari banyak rasa takut dan standard yang menghinggapiku. Namun sepertinya aku perlu kembali jernih dan bertanya untuk petunjukNya. Aku perlu merendahkan hati untuk melihat pimpinanNya dan menjadi bahagia dengan semua anugerah yang mungkin sudah tersedia. Hanya saja yang perlu aku taklukan adalah diriku sendiri. Sungguh ironi!

Biarlah ketika pipimu merona.
Biarlah ketika senyum harus terpancar.
Keindahan dari hatimu perlu ruang bebas.
Kesejukan jiwamu perlu diketahui orang.
Santailah!
Tidak ada yang salah dengan itu!
Kamu mempesona! (tii)

Jumat, Juni 17, 2016

Penuh !

Kudus, balai pengobatan Puskesmas Jekulo

Siang terasa panas, seperti biasanya suasana kota Kudus hari ini. Banyak truck, bis dan kendaraan besar berlalu lalang di depan Puskesmas. Terlalu ramai lingkungan ini, tapi tak seperti hatiku. Aku merasa sepi dan mungkin terasa sendiri. Semua berputar tanpa mengerti mengapa. Semua berkeriap tanpa mengerti sebabnya. Aku saat ini sedang melalui minggu pertama menjadi dokter di Puskesmas ini, berusaha beradaptasi dengan semua keadaan yang ada. Keadaan baru yang ku tak tahu bagaimana. Semua berjalan saja seperti ini, seperti sudah biasa. Aku seorang dokter baru, berusaha beradaptasi tapi juga ingin dimengerti. Mendadak aku merasa egois dan menyebalkan. Akan sampai kapan aku seperti ini. Kedewasaanku harus semakin meninggi, tapi nyali tak kunjung berani. Berpapasan dengan kejamnya hidup mungkin perlu kujalani. Aku tak bisa terus begini..

Sebenarnya tanggung jawabku tak banyak. Aku hanya perlu menjalankan program internship ini sampai selesai saja, masih mengerjakan tanggung jawab sebagai konsutan kecantikan, dan mengurus kebutuhan pribadi untuk tetap bertahan hidup. Jika dipikir pikir apa ruginya toh aku juga mendapatkan untungnya. Yang diminta hanya tanggung jawabku, tanggung jawab tanpa disuruh. Karena sudah tidak ada lagi yang menekanku. Aku sendiri yang harus maju dan memotivasi diri sndri utk maju. Hanya saja mengapa hal sedemikian menjadi sangat sulit sekarang. Padahal sebelum ini, tanggung jawabku lebih berat dan aku bisa mengerjakan semuanya. Ini namanya fenomena: aneh tapi nyata!

Jujur aku tak bisa terus begini. Aku haru bangkit dan mengeluarkan semua yang ada padaku, memberi yang terbaik utk semua tugas yang aku miliki. Aku ingin berubah dan menjadi wanita impianku. Tapi sekali lagi aku harus bagaimana?

Mungkin aku perlu mundur sedikit dan berdoa. Mungkinkah aku kurang melibatkan Allah dalam setiap pergumulan ini? Atau aku yang malas ini memang perlu disentil oleh keadaan? Aku harap tidak begitu. Mungkin aku perlu berdoa lagi, seperti apa kehendakNya untuk hidupku? Allah ingin aku menjadi wanita seperti apa? Aku terus menanyakan bagian ini, dan terus dijawab tapi masih saja tidak kunjung puas. Hmmm, mgkn saat teduhki harus aku prioritaskan lagi. Allah tiap pagi sudah membangunkanku, tapi aku tetap saja menempel di kasur. Parah!

Satu kata: aku harus berubah!
Aku harus dan harus berubah! Entah bagaimana tapi aku harus berubah! Semuanya membutuhkan karyaku dan aku tidak bisa begini terus. Mungkin aku perlu memulai dari waktu teduhku dulu. Dan pelan pelan menata ritme hidup mandiri dengan semua pekerjaan rumah yang banyak di samping pekerjaan sebagai dokter dan konsultan kecantikan. Kalau aku merasa tak mampu, mungkinkah aku sedang mengkerdilkan Allahku? Oh, aku tak mau itu terjadi. Dan aku mau berkembang. Semoga semua karya ini bisa memuliakanNya dan menjadi berkat bagi sesama.

Tuhan tolong saya..!

Sabtu, Juni 13, 2015

-A New Lady in Town-


Finally, I come back here. I realized that a vacuum time is my transition time from my teenager phase into my adult phase. A lot of lessons I got in my vacuum time. Now, I am ready for being a new lady in town and I hope I still work with my uncomparable God. I believe He will take me higher, see sky and all His hand work by my eyes. I believe I will more love Him with my being and taste His glorious through all things He allow me to feel and do.

"UNCOMPARABLE GOD!" 

HOW CAN WE SHINE FOR YOU?
HOW CAN WE LIVE FOR YOU?
DRAW US CLOSE TO BE IN YOUR PRESENCE
TO SHOW THE WORLD
HOW AWESOME YOUR NAME
NO ONE CAN COMPARE TO YOU
NO ONE CAN DENY
THE GLORY OF YOUR MAJESTY
THE POWER IN YOUR HANDS
NOW WE SING YOUR MELODIES
AND SHINE IN HARMONY
THE PRAISES OF THE HEAVENLIES
IN YOUR LOVE WE WILL STAND
FOR YOU ALONE ARE WORTHY OF PRAISE
FOR YOU ALONE WE GREATLY DECLARE
"UNCOMPARABLE GOD!" 

I want to sing Your melodies, give glory to Your majesty! draw me close to Your presence. I know that only You, yes only You that may accept my honor and my song!
  

Selasa, November 27, 2012

kagok stetelah sekian lama

o my God, tampilan blogger sekarang membuat aku tercengang dan tanpa sadar tersenyum sangat lebar :D gak au kenapa seneng banget ngeliatnya :) smakin mepermudah aku secara pribadi untuk menulis banyak hal..

wow jujur untuk kali pertama aku menulis lagi ak masih bingung mau menulis apa, tapi pasti akan ada ide yang masuk lagi setelah ini,..

:)

Minggu, April 18, 2010

kegagalan !

Kisah ini berasal dari kisah nyata. Diceritakan bahwa ada seorang perempuan bernama Clara. Kebetulan dia sedang duduk di bangku kuliah, di sebuah Universitas ternama di Kota Semarang dan mengambil jurusan Kedokteran Umum. (udah pada ngerti semua ni pasti.. hahahaha!) Saat ini Clara sedang bersedih, dia merasa sangat gagal pada mata kuliah tertentu. Awalnya dia merasa bahwa ia sudah belajar, tapi nyatanya tetap belum memenuhi targetnya. Penuh pembelaan di dalam hatinya, “Ko masih dapet jelek sih!!! Kan aku udah belajar!! Dosennya sih…” dan sebagainya. Clara tidak puas dengan apa yang ia dapat.
Bodohnya, bukannya dia belajar dengan lebih baik, tapi malah terkesan “menyerah pada nasib”. Dia mengingat ketika dulu ia akan mendaftar dan akhirnya diterima sebagai salah satu mahasiswa di Fakultas Kedokteran, ia merasa seperti mendapat panggilan untuk bisa melakukan sesuatu di bidang itu. Panggilan itu serasa begitu kuat apalagi ketika ia akhirnya diterima. Semakin PD dia! Sekarang, panggilan itu seperti menghantuinya. Maksudnya karena panggilan itu, Clara kemudian seperti ‘nyantai’. “Ah.. kan aku diterima di sini bisa dibilang karena keberuntunganku. Jadi nanti nilai ku juga pasti bisa ‘membaik’ dengan keberuntungan juga.” Gilaaaa! Impossible, Clara!! That will never happen!! Open your mind, darling. Ternyata kesalahan ini terus terulang!! Dua kali, tiga kali, dan empat kali. Mengenaskan! Sampai akhirnya, Clara putus asa!
Karena keputusasaannya, ia berdoa. Menangis sejadinya. Clara.. Clara.. kenapa baru menyadarinya sekarang??? Kesempatanmu untuk membuktikan bahwa kamu bisa sudah berakhir. Nilai sudah dikeluarkan, nasi sudah menjadi bubur, Clara, terutama untuk bagian pertamamu. Payah! Mending keluar aja sana, gak usah jadi dokter! Iblis terus meracuni pikirannya. Sampai-sampai Clara merasa bahwa dosanya tidak terampunkan. Semuanya seperti berputar tanpa bisa berakhir di pikirannya. Menyedihkan! Clara terus saja menangis. Bodoh, dia seharusnya berhenti dan duduk di kursi belajarnya dan belajar semampunya. Dasar perempuan… ckckck..
Sampai akhirnya dia berhenti pada sebuah kesimpulan, “aku ‘merasa’ sudah belajar, tapi mengapa nilaiku masih saja menyedihkan? Kalo aku benar-benar belajar pasti nilaiku baik. Jadi kalau aku masih dapat nilai jelek berarti aku belum belajar!” sebuah tempelengan seperti mendarat di pipinya. Tang besar yang mencungkil batu besar di matanya bekerja. Clara akhirnya bisa berpikir lagi! Hore…. J Detik itu juga ia tersungkur di hadapan Tuhan, memohon ampun sejadinya. Clara benar-benar bersalah. Dan ia berjuang untuk tidak mengulanginya lagi. Beban besar di atas pundaknya serasa terangkat. Ia sungguh mengerti bahwa semuanya harus diperjuangkan. Tidak ada yang instan dan semaunya sendiri, bahkan kehidupannya di dunia ini saja bukan dari kehendaknya. Clara juga teringat bahwa dosanya bisa diampuni ketika dia sungguh bertobat dengan arti bahwa ia mau mengakui semua dosanya dan berjanji akan berjuang untuk tidak mengulanginya lagi. Dosanya yang merah seperti kirmizi diubahkan menjadi salju yang putih. Haleluya!
Saat ini, kondisi memang belum berubah dengan pertobatan itu, karena ada harga yang harus Clara bayar untuk semua kesalahan yang sudah ia lakukan. Ia harus belajar lebih lagi supaya bisa mengejar ketinggalan. Walaupun sebenarnya ia masih ingin menangis, karena semuanya terasa berat, tapi satu pengharapan yang ia pegang bahwa apa yang sudah difirmankan kepadanya tidak akan pernah berubah, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Proses pemusnahan ego sedang ia jalani setiap hari. Tapi proses inilah yang memang harus Clara terima atas perbuatan yang didasarkan atas kemalasan. Clara, kamu pasti bisa!

Belas Kasihan

dr. Prasarita Esti Pudyaningrum Hidup di dunia penuh tuntutan, target tinggi, dan penuh dengan ekspektasi melampaui batas dari orang lain ...