Sabtu, Juni 29, 2024

WC Rusak


“Bu Dok, ini karmana 4 WC di klinik son jadi, semua son bisa dipakai BAB, WC bau, airnya naik semua..” Begitulah pagiku suatu saat, mak Lodi lapor kalau 4 WC di klinik rusak. Airnya meluap, WC jadi bau sekali. Beberapa ruangan di klinik jadi tidak biasa baunya. Teman-teman bekerja dengan tidak nyaman. Apa yang ada di dalam meluap keluar dan berdampak ke banyak orang. Saya tidak mengerti tentang WC. Akhirnya dr David pulang dari Jakarta. Dan masalah yang sama terulang lagi. Ya sudah saya pikir biar laki-laki saja yang urus. Daripada saya yang urus malah jadi masalah baru.

Lukas 6: 45 “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” Ayat ini tiba-tiba muncul dalam pergumulan tentang WC di klinik. Beberapa kali saya saat teduh Allah berbicara jelas mengenai hal ini. Mak Lodi akhir-akhir ini sudah bekerja dengan sangat luar biasa. Semua kamar mandi di klinik dia bersihkan dengan seksama. Wangi dan lantainya tidak licin lagi. Maka ketika ada bau busuk, kami heran. Datang dari mana ya bau itu? Ternyata datang dari dalam septic tank. Apa yang di dalam jika kepenuhan pasti meluap keluar. Kebetulan ini kotoran, jadi ketika meluap pasti bau busuk.

Sebagai manusia kita harus menyadari tidak semua barang baik ada dalam hati kita. Ada juga barang yang jahat dalam hati kita. Dua barang ini bisa meluap kapan saja. Tergantung pemantiknya, atau ketika sudah meluap tidak cukuplah penampungnya, tadaaa.. inilah. Saya tidak menyangka Allah akan berbicara dan menegur saya melalui WC. Kadang-kadang Allah itu memang kidding. Hahaha. Sekarang saya berpikir bagaimana supaya membersihkan barang jahat yang ada dalam hati saya? Bagaimana saya bisa punya perbendaharaan barang baik saja dalam ahti saya? Bagaimana membersihkan barang jahat dalam hati saya? Allah pun menjawabnya melalui Mak Lodi.

Mak Lodi berangkat lebih pagi dari kami semua untuk membersihkan klinik termasuk kamar mandi. Ada usaha lebih yang dikeluarkan. Lalu dia juga meminta cairan dengan merk tertentu untuk membersihkan noda membandel. Dia juga menggosok dengan lebih kuat untuk noda-noda yang membandel. Dan untuk WC yang rusak, dia mengajukan perbaikan kepada pimpinan. “Tita, seperti itulah juga yang harus kamu lakukan. Harus usaha lebih. Ada waktu yang dikeluarkan untuk membaca Firman, ada usaha untuk memikirkan hal-hal baik, ada usaha untuk memasukkan hal-hal baik dan jika mentok mintalah bantuanKu.” Dengan lembut Dia menjawab dalam perenungan saya di ruang poli umum.

Dia menghargai setiap waktu yang kita usahakan untuk membaca Firman lebih banyak dan lebih dalam. Tuhan menghargai dan menolong kita saat kita memilih mengerjakan dan membaca hal-hal baik. Tuhan juga turun tangan saat ada hal-hal yang perlu sentuhan khususNya. Dia tahu kita tidak bisa mengerjakan hal ini sendiri. Dia tahu kita terbatas dan tidak sempurna. Dia hadir untuk mengajar, menguatkan dan membimbing. Terbukti dari perkara WC ini saya mendengar suaraNya yang lembut.

Semakin tambah usia saya, saya melihat hal-hal dasar menjadi sangat penting dan itu sebenarnya nafas hidup saya. Saat teduh memang diajarkan saat saya menjadi petobat baur. Tapi saat teduh itu sekarang benar-benar saya nantikan. Karena dengan saat teduh saya bisa mengisi hati saya dengan perbendaharaan yang baik. Firman Tuhan yang say abaca sedikit-sedikit masuk dalam memori saya dan menghapus pelan-pelan kekhawatiran, kegelisahan dan ketakutan saya.

Saya melihat, kuasa Tuhan yang besar itu dalam banyak perkara-perkara sederhana dalam hidup kami. Dari WC rusak, kuasa Tuhan terasa mengubahkan hati. Dengan mencuci piring, membersihkan rumah saya belajar ketekunan dan keteraturan Tuhan. Dengan mencuci baju, menjemur baju dan melipat pakaian saya belajar ketangguhan melawan suhu dingin, saya belajar setia dan tangguh dalam pergumulan yang sulit. Jadi saya pikir Tuhan memang menyertai dan terus berbicara. Kalau dalam pekerjaan sebagai dokter pasti, semua orang sudah sering berbagi, tapi kali ini Tuhan kuat berbicara dalam pekerjaan rumah yang sepertinya remeh.

Hari ini saya bersyukur ada WC rusak ini. (t)


Jumat, Mei 24, 2024

Non-Absorbable, Sebuah Renungan melalui Konflik

 


Sudah tujuh bulan saya tinggal di Tanah Timor. Ada satu anak laki-laki Silu yang tinggal dengan kami di rumah. Hampir tiap hari saya mengomel karena hal-hal yang sama. Hal-hal itu seperti berbohong atau tidak izin saat akan pakai motor suami. Saya mengomel terus tapi dilakukan terus juga. Lalu satu hari suami saya yang mengomel, dan saya perhatikan muka anak ini. Dia seperti acuh tidak mau dengar. Mengelus dada! Saya cuma bisa mengelus dada. Pantas saja dia selalu melakukan kesalahan yang itu itu lagi karena dia tidak pernah mendengarkan ketika ditegur.

Lalu saya teringat saat masih kuliah. Saya ada dalam sebuah persekutuan mahasiswa. Kami membahas tentang menegur dalam kasih. Baru selesai dibahas, lalu ada satu teman menegur dengan emosi dan kami melihat tidak dengan kasih. Spontan kawan saya nyeletuk, “Barusan juga dibahas, sabar-sabar..” Sering juga itu saya! Tuhan berkali-kali menyampaikan sesuatu tapi kita acuh. Tidak mendengarkan dengan seksama, tidak bersikap rendah hati, akhirnya teguran atau ajaran apapun lewat alih-alih terserap dalam hati dan bermanifestasi dalam tindakan yang diperbaharui dalam kebenaran, malah terpental.

Dalam sebuah konflik di sebuah keluarga, persekutuan, organisasi, pasti ada kala proses rekonsiliasi berjalan alot. Bukan karena yang bersangkutan tidak mau berdamai. Tapi karena ada hal-hal yang perlu direnungkan dan diendapkan dalam hati masing-masing. Seseorang kadang perlu melalui sebuah fase denial, marah, tawar menawar, depresi dan kemudian bisa menerima.

Dalam fase denial, seseorang akan berusaha sekuat tenaga akan memberi pembelaannya. Dia berusaha menyampaikan dia tidak bersalah, itu bukan aku tapi dia! Dalam setiap konflik pasti semuanya salah, semua ada andil. Bahkan saya dengan anak Silu ini, saya juga ada salahnya. Semua orang akan diajak untuk melihat bahwa kita benar, dan yang salah dia. Jika tidak hati-hati mulut kita akan berdosa dan menimbulkan Gospel (Gosip Pelayanan) yang akan sangat mudah dipercaya bahkan bisa menimbulkan dosa komunal. Saya belajar diam, walau dalam hati sangat berkecamuk.

Seru memang melalui konflik ini, setelah bisa punya banyak waktu merenung, maka kita akan marah. Fase berikutnya karena kita mulai ditegur, diingatkan dan tidak terima. Tapi begitupun kita perlu melaluinya dalam kekuatan Ilahi. Fase ini harus lewat supaya kita bisa sampai di fase tawar menawar. Kita mulai bisa melihat kita bersalah, dan mulai bersiap untuk dengan gentle menerima konsekuensi dari kesalahan bahkan kebodohan kita. Makin seru lagi karena kemudian kita menjadi depresi! Kita melihat kita bersalah sebegitu dahsyat. Dan ya, kita layak dihukum! Dalam fase ini jika kita lupa bahwa Allah Maha Pengampun, maka kita dapat menjadi pribadi yang terhilang. Pilihan untuk kita ada dua: bertobat atau makin bebal. Ketika kita memilih bertobat, maka kita sampai di fase terakhir menerima dalam segala anugrah Tuhan. Percayalah jika kita bertobat, kita akan mengalami pulihnya Persekutuan kita dengan Allah dan sesama. Orang-orang yang kita anggap musuh di fase awal, seketika kita akan melihat mereka jugalah yang mengasihi kita dengan sebegitu rupa dan bisa menerima kita kembali, apa adanya!

Allah memproses saya dengan sangat dahsyat akhir-akhir ini. Sebuah istilah “Diam bukan berarti tidak melakukan sesuatu” itu benar. Allah terkesan diam bagi saya. Dia terasa jauh. Tapi ternyata Dia bekerja. Saat saya mempertanyakan, Tuhan Engkau dimana, sebenarnya Dia duduk di sebelah saya, memeluk saya. Akhir-akhir ini baru saya menyadarinya. Dia mengajar “Diam Ta, badai itu sudah berhenti Aku di sini, tapi kalau kamu tidak menenangkan dirimu, siapa lagi yg akan bantu?” Yaa, saya belajar memakai kehendak bebas itu untuk diam dan menenangkan diri. Di saat itu, hati dan otak ini bisa menjadi seperti spons yang bisa menyerap semua Firman yang saya dengar.

Ketika kita belum mau diproses maka kita akan sulit mendengarkan kehendakNya. Kita akan sulit berubah apalagi melihat kesalahan kita, bisa dibilang impossible. Tapi ketika kita memutuskan merendahkan hati di bawah Salib Kristus, mau disalahkan bahkan siap menerima segala hukuman atas tindakan kita, Anugrah itu bekerja. Dengan Ajaib Roh Kudus terasa sengatNya. Kita yang sebentar lagi masuk dalam jurang kepahitan, seperti ditahan Tuhan untuk selamat. Tangan kita seperti ditarik sekuat tenaga untuk tidak terjun ke dalamnya. Inipun juga anugrah Tuhan. Dalam segala kemarahan, tangisan dan hancur hati, Dia menegur dengan keras melalui FirmanNya, melalui sesama, melalui alam itupun anugrah Tuhan.

Sikap acuh itu kemudian diubah Tuhan. Telinga yang tidak bisa mendengar akhirnya bisa memperhatikan dengan seksama. Hati yang keras akhirnya dilembutkan. Tanah berbatu itu akhirnya menjadi subur. Benih yang ditaburkan akhirnya tumbuh dengan baik. Firman Tuhan akhirnya bisa diserap dengan baik, berakar, bertumbuh dan berbuah.

Sebuah lirik pujian berbahasa Inggris menyapa saya, “Will you love the ‘you’ you hide, if I but call your name?” Mengikut Kristus memiliki konsekuensi ini. Penyangkalan diri seumur hidup! Jika hari ini berhasil menyangkali diri, tenang, besok akan mengalami lagi. HAHAHA! Karena ini proses seumur hidup. Dia makin besar, kita makin kecil.

Apalah kita ini, hanya seperti ombak di tepi pantai, seperti asap yang sekarang ada lalu kemudian lenyap. Walau begitu, Allah terlalu mengasihi kita, Dia relakan anakNya yang Tunggal untuk menebus dosa kita. Masih layakkah kita bertindak seperti Tuhan kepadaNya? Masih layakkah kita menganggap diri kita tidak bersalah padahal sangat tidak kebal dosa? Dalam segala kerapuhan, Allah merengkuh dengan indah, Dia memperdamaikan segala sesuatu. Mari belajar berdamai juga, dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan sesama, dan dengan alam ini. Tuhan pasti akan menolong! (ti)

Sabtu, Juni 03, 2023

Hidup di Dunia Transaksional

 Oleh dr Prasarita Esti Pudyaningrum

Siang itu terasa berat sekali, bagaimana tidak, saya berulang tahun, tapi jaga poli umum hanya sendiri dengan 1 perawat melayani 175 pasien dengan macam-macam keadaan. Yah benar, hari itu sedang dilakukan pendampingan akreditasi dalam menyiapkan akreditasi puskesmas. Kawan kawan lain hilang duduk manis menghadap petugas yang ditunjuk oleh Dinas Kesehatan mendengarkan bimbingan akreditasi. Saya bertanya dalam hati, bukankah saya juga memegang hal penting yah, bahkan saya salah satu PJ, tapi mengapa saya seperti dianak-tirikan. Singkat cerita, selama beberapa pendampingan saya tidak pernah mengikutinya karena harus “jaga gawang”. Pimpinan sepertinya merasa bagian saya tidak begitu penting dalam manajerial puskesmas, walaupun saya adalah salah satu PJ, maka tidak pernah diikutkan rapat sampai pendampingan akreditasi. Hati kecil saya berteriak: bagaimana jika aku keliru mengerjakan dokumen-dokumen ini? Bagaimana jika nanti salah semua malah mempermalukan nama puskesmas? Tapi jika ikut pendampingan siapa yang mengurus pasien? Semua pertanyaan ini berputar-putar dalam pikiran saya. Di sisi lain, saya melihat kawan-kawan diberi waktu off tidak mengurus pasien saat sedang mengerjakan dokumen akreditasi. Saya? Saya mengerjakannya disela-sela pelayanan kepada pasien. Sungguh terasa tidak adil. Ketika saya menyampaikan kepada atasan mengenai kesulitan ini, jawabannya sangat sederhana, “Yah, Anda dibayar untuk itu, kerjakan tanpa mengeluh.”

Sebuah fenomena yang sering terjadi bukan? Ini adalah salah satu cerita dari kawan dekat saya. Sebuah kenyataan bahwa perlakuan yang kita terima itu acapkali berdasarkan sumbangsih apa yang kita berikan. Jika kita sudah dibayar dengan sekian rupiah, maka diartikan kita bisa diperintah semau atasan. Kawan saya ini kebetulan adalah orang yang menjaga integritasnya selama bekerja. Dia tidak mau mengerjakan SPJ bayangan, dia menyampaikan pendapat dalam setiap rapat yang dia rasa sesuai dengan prinsip kebenaran. Maka tidak heran jika dia menjadi public enemy. Sikapnya berbeda dari pegawai lainnya. Mungkin jika dibenci kawan sekerja dia masih santai, tapi kali ini atasannya pun tidak memyukainya. Dia dinilai tidak sejalan dengan keinginan atasan. Maka dia tidak diikutsertakan lagi dalam rapat-rapat inti, lha wong pembekalan akreditasi saja tidak diikutkan ya to? Kawan ini hanya butuh mendapat penghargaan sewajarnya. Tapi semua usahanya ditiadakan oleh atasan. Yah karena tidak bisa memenuhi “ekspektasi” atasan. Hubungan transaksional! Kamu bisa beri saya apa, saya baru kasi kami apa. Jika kamu tidak bisa memberikan seperti yang saya mau, ya berarti kita tidak perlu berhubungan. Hubungan transaksional seperti kesepakatan bisnis; begitu banyak aturan dan klausa yang harus diikuti dan jika tidak, kesepakatan batal! Kita akhirnya terjebak dalam hubungan tidak akan mendapatkan sesuatu jika tidak memberi.

Masalah muncul kemudian adalah karyawan dianggap gagal memberi yang terbaik padahal sudah melaksanakan tugas sesuai tupoksi, hanya karena tanggung jawab dengan jumlah yang lebih banyak di luar tupoksi bahkan keahlian yang seharusnya kurang dikerjakan dengan baik. Padahal dia sudah melakukan tupoksinya sesuai bahkan di luar ekspektasi. Ada sisi subjektifitas. Penilaian kerja bukan lagi berdasarkan kualitas mengerjakan tupoksi tapi karena tidak mengerjakan tugas tambahan dengan baik. Tugas tambahan ini notabene adalah tugas atasan yang seharusnya atasan yang mengerjakan. Yah hidup kawan saya selesai. Perasaan tidak dianggap , disisihkan dan dibuang menggelayuti dia setiap hari.

Mendengar ini bagaimana nurani kita? Ini hanya sekelumit kisah di dunia kerja. Tapi jika diperhatikan, hubungan transaksional terjadi di banyak hubungan dalam kehidupan. Orang tua sudah menyekolahkan, apa yang kau beri untuk orang tuamu? Jika tidak “gemati” dengan papa mama, maka kasih papa mama berat sebelah. Gereja memberikan perhatian lebih banyak kepada keluarga jemaat yang rajin pelayanan di gereja. Apakah jemaat lain yang tidak pelayanan tidak butuh? Kemudian jika tidak rajin, jemaat malah disalahkan makanya rajin pelayanan, padahal dia satu satunya tulang punggung keluarga, waktunya habis untuk cari uang. Jika tidak maka adik-adiknya tidak sekolah dan pengobatan orang tuanya tidak maksimal. Kemudian Yesus berdiri melihat dunia yang dijadikanNya berjalan seperti ini.

Malam itu di Getsemani, Yesus berdoa kepada Bapa untuk ambil saja cawan ini. Saya membayangkan diri saya menjadi Yesus, Tuhan aku akan korbankan semuanya. Aku akan dikhianati muridku, difitnah oleh bangsaku sendiri, bahkan dibunuh dengan disiksa dahulu. Demi mereka! Tak heran jika Yesus berdoa ambil saja cawan ini. Jika Yesus bersikap transaksional, sudah selesai kita semua. Aku mati di kayu salib untukmu, apa balasmu? Harus yang setimpal yah. Mahal lo darahKu? Kalau tidak bisa, ke neraka saja ya. Tapi doa Yesus tidak berhenti, masih ada sambungannya, tapi jika ini kehendak Tuhan biarlah terjadi seturut dengan kehendakNya.

Demonstrasi kasih terakbar yang pernah ada di dunia dan tidak akan pernah ada lagi. Contoh jelas bagi semua umat kristiani bagaimana untuk hidup beragama dan berelasi. Kasih tanpa syarat bukan terjebak dalam hubungan transaksional. Mungkin kita sudah melakukan dalam relasi kita dengan orang lain. Menariknya adalah, bagaimana kasih itu tetap menjadi kasih ketika kita yang menjadi obyek dari hubungan transaksional itu? Masih bisa kah kita mengatakan aku mengasihi orang yang menganiayaku?

Jatuh bangun kawan dekat saya ini berjuang tiap hari untuk berangkat ke kantor. Saya tahu betul dia setiap hari berjuang berangkat. Detik-detik akhir masa pengabdiannya segera tiba, kami mengira dia akan mengambil cuti besar, seperti kawan dokter lainnya. Tiga bulan sebelum pensiun dia sudah off tidak bekerja lagi. Tapi kawan ini menyelesaikan tugas hingga akhir, walaupun sekali lagi tugas terakhirnya tidak disukai atasan karena menampilkan dirinya. Atasan meminta keberadaannya dihapus saja. Sampai akhir masa bakti dia tetap memberi yang terbaik walaupun diperlakukan seperti itu. Saya sungguh melihat sebuah praktek hidup yang berbicara dahsyat menegur saya. Kebetulan kawan saya dan atasannya juga Nasrani.

Hidup tetap menyatakan kasih tanpa syarat dalam keadaan tidak pernah menerima imbalan pantas dari kerja kerasnya, mengajar saya bahwa kita semua selalu punya pilihan. Apalagi tetap mengerjakannya dengan terus melawan arus dunia akan terasa semakin sulit. Mengasihi orang yang jelas-jelas berbeda prinsip, mengasihi orang yang menyakiti, mengatakan kebenaran kepada mereka yang sudah tahu tapi tidak melakukannya, membawa suasana kerja yang berbeda. Oh jadi ini yang dikatakan menjadi garam yah. Jika kawan saya ini kemudian menjadi sama seperti mereka, mungkin itu istilahnya garam yang menjadi tawar.

Dunia transaksional ini perlu digarami! Kita dipanggil untuk berbeda, menjadi terang dan garam bagi dunia yang transaksional. Minimal ada dua yang bisa kita lakukan. Kita tidak perlu harus selalu menerima apa yang kita tabur. Malah seringkali mendapat perlakuan tidak seperti yang seharusnya kita dapatkan. Tapi bukan berarti kemudian kita berhenti berbuat baik. Bukan berarti orang baik akan selalu mendapatkan yang terbaik. Dan bukan berarti orang baik tidak bisa mengalami hal buruk. Lantas jika mengalami hal buruk, berarti dia bukan orang baik? Kadang pemakaian kata karma memang harus berhati-hati. Karena hal-hal buruk kadang terjadi untuk menjadi pelajaran hidup.

Lalu, kita masih harus terus memilih untuk mengerjakan yang terbaik, sesuai firman Tuhan sampai akhir. Bisa kita berdoa Tuhan ambillah cawan ini daripadaku. Tapi seringkali kita memang harus meminumnya. Ketaatan sampai akhir dari Yesus harus menjadi contoh dalam kita bersikap. Kita tidak akan pernah bisa membalas kebaikan Tuhan. Ketika kita melakukan “meminum cawan kita sampai habis” pun tidak akan pernah bisa membalas kasih Tuhan. Justru Tuhan berbicara, nak Aku tahu hidup berat dan sulit, Aku sudah melaluinya, mari ikutlah teladanKu. Seketika beban berat dalam hati menghilang Bersama air mata yang mengalir. Kasih tanpa syarat menyentuh hati kita. Menguatkan langkah untuk memberikan kasih tanpa syarat kepada sesama. Detik itu, saya belajar, kejadian buruk dapat menimpa kita karena ada keakuan besar yang sedang dikikis Tuhan. Keakuan untuk kesenangan pribadi. Keakuan untuk diterima. Keakuan untuk dianggap. Keakuan ini bak dinding yang dihancurkan oleh kasih Ilahi. Maka saat keakuan itu hilang, kita bisa taat sampai akhir, seperti kawan ini. Semakin nampaklah betapa kecilnya kita, dan betapa besarnya Tuhan. Dan kita dimampukan untuk mengerjakan extra miles. Tapi bukan extra miles manusia lagi, tapi extra miles standard Ilahi. Bahkan akan dengan mudah kita mengasihi musuh kita!

Akhir dari perenungan ini, kasih Kristus memang jawaban atas segala permasalahan di dunia, terutama dunia transaksional ini. Dunia tidak mengerti konsep kasih tanpa syarat. Semoga kita tidak terjebak dalam prakteknya. Apalagi menjadi aktor transaksional dalam bentuk apapun. Biarlah kasih Kristus yang menerangi setiap motivasi kita. Kasih Kristus memampukan kita merengkuh sesama dalam segala keterbatasannya. Tidak menerapkan double standard dan belajar tidak menerima hak yang mungkin seharusnya kita terima. Tuhan Yesus memberkati! (t)

Jumat, November 26, 2021

Keguguran

 

Kebahagiaan dan kedukaan hadir mewarnai hidup untuk lebih dalam mengenal Sang Pelukis Semesta. Satu tahun menikah, Tuhan mengizinkan akhirnya dua garis test kehamilan sebagai kado dalam pernikahan kami. Sebagai manusia kami benar-benar bersyukur karena akhirnya Tuhan menganugrahkan jawaban doa kami. Kabar kehamilan hadir setelah perjuangan melawan covid. Saat itu benar-benar menghibur hati kami setelah melalui banyak pergumulan. Kabar ini sungguh membahagiakan karena akhirnya Tuhan membuka rahim saya.

Pada waktu itu kami melihat ini benar-benar anugrah dari Tuhan. Kami melihat Tuhan adalah Tuhan yang mendengar doa kami. Masih teringat dalam doa malam waktu itu, “Tuhan, anak ini milikMu, pada waktuMu panggillah dia menjadi hambaMu yang taat mengerjakan panggilanMu.” Tidak disangka, pada kehamilan usia genap delapan minggu, Tuhan izinkan buah hati kami diambil Tuhan. Tuhan panggil dia, bukan untuk terus berkembang dan tumbuh besar mengerjakan panggilanNya suatu hari nanti, tapi dipanggil pulang. Ternyata kehendakNya atas anak ini berbeda dari yang kami doakan.

Dalam keadaan payah, sakit dan berjuang bangkit, kami belajar bersyukur dan terus mencari Tuhan dalam masalah ini. Tuhan apa yang Engkau ingin sampaikan melalui kejadian ini? Adakah kesalahan yang kami buat? Adakah hal yang ingin Kau ubahkan dari kejadian ini?

Dalam masa berkabung, Allah berbicara dengan jelas melalui kitab Amos.”“Sekalipun Aku ini telah memberi kepadamu gigi yang tidak disentuh makanan di segala kotamu dan kekurangan roti di segala tempat kediamanmu, namun kamu tidak berbalik kepadaKu,” demikianlah firman Tuhan. “Aku pun telah menahan hujan dari padamu, ketika tiga bulan lagi sebelum panen; Aku menurunkan hujan ke atas kota yang satu dan tidak menurunkan hujan ke atas kota yang lain; ladang yang satu kehujanan dan ladang yang tidak kena hujan, menjadi kering; penduduk dua tiga kota pergi terhuyung huyung ke satu kota untuk minum air, tetapi mereka tidak menjadi puas; namun kamu tidak berbalik kepadaKu,” demikianlah firman Tuhan.” Bukannya marah, karena Tuhan memberi jawaban tegas dan jelas seperti ini, respon kali itu sungguh membahagiakan. Kami berbulan-bulan sejak awal menikah bergumul kapan waktu terbaik untuk satu kota, hidup satu atap dan satu tanah untuk dipijak. Firman ini menguatkan inilah saatnya. Kami sungguh menanti-nantikan waktu Tuhan. Ternyata Tuhan memakai keguguran, masa-masa sulit sebelum ini lainnya, untuk meyakinkan orang tua dan banyak rekan kerja yang tidak rela ditinggal.

Bagaimana tidak, orang tua mana yang tidak akan terguncang ketika akan ditinggal anak yang selama ini dibesarkan. Bagaimana tidak, rekan kerja mana yang tidak terima karena orang yang selama ini sendika dhawuh (taat sepenuhnya) mau mengerjakan semua hal lalu harus pergi meninggalkan pekerjaan esensial yang banyak sekali. Dalam kesedihan kami, Allah menghibur kami dengan memperlihatkan bahwa Dia sungguh mengerti kesulitan yang kami alami dan kerindukan hati yang kami inginkan. Dia juga Allah yang mengenal lingkungan kami, yang cukup keras hati dan membutuhkan alasan kuat untuk sebuah keputusan besar (baca meninggalkan kota Semarang dan mereka). Mereka adalah orang-orang yang tidak menerima alasan “ini adalah kehendak Tuhan” atau “jawaban Tuhan untuk pergumulan kami adalah ini”. Mungkin orang tua tidak separah ini. Tapi Tuhan lebih tahu kondisi tempat kerja.

Hari itu, Allah benar benar memberi jawaban tidak hanya untuk kami, tapi juga untuk semua orang di sekitar kami. Kami sungguh melihat Dia adalah Allah penguasa semesta. Dia tidak perlu menjawab dengan banyak kalimat. Hari itu hanya dari tiga ayat, Dia menjawab telak kepada semua pihak dalam pergumulan ini. Keluarga maupun kolega semua sejak awal juga mengerti bahwa kami harus hidup sekota, hanya seperti tidak kuasa untuk mempercayai Allah untuk kehidupan kami setelah pindah. Seketika, kesedihan akan keguguran, diubahkan Tuhan menjadi sebuah kekuatan bagi kami. Yeay, sebentar lagi kami akan serumah!

Melalui peristiwa ini, kami belajar, Allah mengenal kami dan seluruh orang di sekitar kami. Awalnya kami khawatir akan keputusan besar ini, bagaimana memberanikan diri membuat keputusan besar tapi semua orang dalam lingkar terdekat kami mengerti dan menerima dengan lapang dada dan bahkan mendukung kami. Kami bisa saja koboy-koboyan langsung berkeputusan untuk pergi, tapi Tuhan mengajar hal yang bernama kebijaksanaan. Kami tetap pergi tapi dalam kondisi sukacita dan semua orang melihat dengan jelas bahwa ini keputusan Tuhan. Hari ini pada akhirnya kami bersyukur karena melihat mereka mengakui ada Tuhan yang mengatur hidup kami, paling tidak itu, walau beberapa kolega belum bisa terima.

Hal kedua, Tuhan memakai semua peristiwa pahit dalam hidup untuk menyatakan pada banyak orang bahwa Tuhan menegur untuk kembali bersekutu dan hanya menaati perintahNya. Sejak awal tidak ada keinginan untuk tidak taat mengabdi di Tana Timor, tapi melalui Firman Tuhan ini sekitar kami kembali melihat bahwa keputusan kami semata-mata hanya menuruti perintah Tuhan. Hidup adalah anugrah, keluarga adalah anugrah, begitu juga dengan pekerjaan, semua semata-mata anugrah. Di sisi lain, Tuhan juga berkuasa memberi, juga berkuasa mengambil. Allah menggelar sebuah pelajaran, apapun pemberian Tuhan, kehendakNya adalah menaati perintahNya. Kali ini Tuhan mengizinkan kehilangan untuk mencelikkan bahwa ada perintah yang harus segera kami kerjakan. Kami bersyukur bahwa Tuhan tidak hanya berbicara kepada kami, tapi juga kepada banyak orang.

Terakhir, kami melihat, kami bersukacita! Tiga ayat ini menghadirkan keyakinan kepada keluarga (terutama) yang sekaligus meneguhkan kami. Sekali lagi kami melihat, jika Tuhan sudah buka pintu, Dia akan selesaikan! Keyakinan yang kami pegang sejak berelasi sebagai kekasih hingga hari ini semua dalam kontrol pengaturan Tuhan. Anugrah dan kasihNya terus berjalan beriringan. Walau harus berputar 40 tahun di padang gurun, Bangsa Israel tetap berakhir di Tanah Kanaan. Kami tidak berharap 40 tahun, kami berharap masa penantian ini segera berakhir. Kami hanya percaya, Dia akan membawa kami ke Tanah PerjanjianNya.

Akhirnya, kembali lagi, semua adalah dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia. Bukan kita yang menentukan hidup kita. Bahkan ketika Tuhan sudah berkehendak, bukan kita yang menentukan jalan prosesnya. Terkadang, jalan itu tidak sesuai rencana manusia. Kita tidak sedang menyombongkan diri karena mengerti kehendakNya lalu membantuNya dengan membuat rencana sendiri. Tapi kita mau sama sama percaya, Dia akan mengumpulkan serpihan hati yang patah dan memberi pengharapan baru. Yesus memang tidur saat badai, Yesus ada dalam hidup kita tapi bukan berarti tidak akan ada badai. Dan walaupun ada badai, Yesus ada dalam hidup kita. Kiranya makin hari, kita makin menjadi hamba yang sesungguhnya hambaNya. Ternyata perjalanan menyangkal diri tidak mudah yah.. Tuhan memberkati.. (JnT)

Minggu, September 30, 2018

Mold me

Grace alone which God supplies
Strength unknown He will provide
Christ's in us, our cornerstone
We will go forth in grace alone

Lagu ini sungguh mengena untukku akhir2 ini. Semua pergumulan ini dimulai dari pergumulan kesehatan, merembet ke pergumulan pekerjaan 1 lalu ke pekerjaan 2, merembet lagi ke pergumulan lainnya.., maksudku ada drama di pekerjaan kedua yg sempat mengesalkan. Ouch.. Lelah lo bener! Rasanya pingin teriaaaakkkk... Aku ga sehebat itu Tuhan untuk menanggung ini semua. Semua ini terlalu sesuatu..

Pergumulan kesehatan yang sempat membuatku sangat lemas, akhirnya mengajariku untuk bersyukur dalam musim apapun di hidupku. Bukan perkara mudah! Tapi aku memang mengakui ada kekuatan surgawi yang nyata kurasa. Sedangkan pergumulan pekerjaan ini sangat sangat menyita perasaan.

Aku belum bs menceritakannya dengan baik karena belum ada akhirnya, belum tahu nantinya seperti apa. Jadi masih perlu berdoa dlu. Yang pasti aku sebagai manusia, yang perempuan jg, ingin sekali segera selesai dua part ini. Karena sangat drama dan menguras emosi. Rasanya tersandera kalo boleh pinjem istilah Ibu. Aaah, Tuhan sudah hampir 1 tahun loh perjuangan ini dimulai.., saya akan belajar lebih percaya lagi bahwa Engkau sendiri yang akan bertindak.

Let Your will be done, Lord.. 🙏

Rabu, September 05, 2018

Penghiburan part 1

Beberapa waktu lalu, Tuhan mengizinkan saya mengalami patah hati. Perasaan yang tidak menyenangkan karena sikap seorang pria. Inti permasalahannya adalah kami sama sama berdoa, lalu mendapati hal yang sama, tapi dia memilih untuk tidak menaatinya. Jadilah ak ditinggalkan dalam kebimbangan antara realita dan jawaban doa. Aku sempat tidak terima, ada perasaan "Ha.. mudah sekali ya tidak taatnya..!" Lalu hanya berselang SATU MINGGU saja dia sudah dengan perempuan lain, yang tentunya jauh lebih langsing, seksi daripada akyu... Hahaha,. Cukup tahulah ya.. Dan sudah tertebak juga kisah selanjutnya seperti apa..

Kali ini aku hanya ingin menyoroti dari sisiku saja. Jelas saya merasa seperti dipermainkan! Dia pikir ini hati seperti taman bermain mungkin ya. Aku di kala itu berusaha mendoakan dengan serius di hadapan Tuhan eh malah begini. Sakit loh hatinya.. Nangis saja yang bisa kukerjakan, sampai pernah kejadian lima hari sulit tidur. Padahal load kerjaan dan pelayanan cukup banyak. Dan betul saat harus berangkat KMdNM di Bandung saya teler seteler telernya. Sakit. Demam gitu. Melihat dan merasakan sendiri kekacauan ini, saya berbulat tekad memutuskan move on. Hal yang membuat saya mudah sekali untuk move on adalah sebuah pemikiran ini, bagaimana aku yakin berjalan dengan pria yang takut akan Tuhan jika perintahNya kemarin saja dengan mudah dia abaikan. Saya percaya pemikiran ini bukan berasal dari diri saya sendiri, tapi dari anugerah Roh Kudus saja. Hal luar biasa setelah itu adalah muncul rasa damai sejahtera yang tak terjabarkan dan perasaan iba, kasian dan akhirnya bisa mengampuni pria tersebut. Keajaiban yang terjadi saat itu adalah perubahan suasana hati yang bertolak belakang. Hal ini membuat saya tahu bahwa keputusan move on adalah keputusan tepat.

Hal menarik lainnya adalah bagaimana Allah melalui FirmanNya berbicara kepada saya! Di tengah semua kesedihan ini, FirmanNya yang saya terima melalui saat teduh saya selalu mengatakan, "jangan takut tetap percaya walau dalam badai", "badai itu pasti akan berlalu, Tuhanlah penguasa alam", dan "AKU akan menyediakan penghiburan bagimu". Dari situ saya tahu bahwa Allah peduli dengan setiap pergumulan hidup saya.

Sampai pada akhirnya saya belajar mempercayai itu dan kemudian boleh terlepas dari kesedihan itu dengan sebuah harapan. Harapan saya bertumbuh lebih dewasa dalam hal percintaan, harapan bahwa saya akan dapat melalui badai, harapan saya akan mendapat penghiburan!

Kemudian hidup membawa saya kepada sebuah peristiwa...

-to be continued-

Selasa, Maret 27, 2018

Keseriusan

Malam ini entah mengapa terjadi pembicaraan mengenai pasangan hidup dengan Ibu. Saya merasa senang dan terberkati setelah pembicaraan ini berakhir. Memang awal mulanya karena mengenang alm. Bapak, tapi lama lama saya mendapati diceramahi oleh Ibu. Hahahaha.

Bermula dari bagaimana pertemuan Bapak dan Ibu dulu semua ini bermula. Waktu itu Bapak menjadi pembicara sebuah acara dimana Ibu saya menjadi sie acaranya. Pertemuan awal itu menumbuhkan benih cinta di hati Bapak. Waktu berlalu, Ibu melihat kesetiaan dan ketulusan cinta Bapak. Bapak butuh waktu lama meluluhkan Ibu. Bapak berbeda 3 tahun. Jadi beliau sudah bekerja saat bertemu Ibu yang masih mahasiswa. Saat itu Bapak betul betul berjuang menunjukkan keseriusannya. Sampai sebuah perjuangan luar biasa naik motor ke Rembang dari Semarang, demi mengobati rindu karena Ibu sedang KKN di sana. Beberapa tahun berlalu akhirnya Ibu luluh. Padahal saat itu Ibu didekati banyak lelaki. Tapi Bapak tidak gentar, ia percaya dengan pilihannya.

Ketidakgentaran itu terbukti, bahkan di saat lelaki lain terus berusaha menikung, Bapak tetap membawa pengharapannya dalam doa. Bapak juga terus menunjukkan keseriusannya padahal waktu itu Ibu sempat bekerja di Jakarta dan Bapak di Semarang. Karena jika tidak dijagai, para lelaki itu juga mengejar Ibu sampai ke Jakarta. Jadi saat itu Ibu didekati 4 laki laki bersamaan. Dua dari mereka sampai sengaja mencari kerja di Jakarta, dua lagi masih di Semarang, salah satunya Bapak. Ibu tipikal sepertiku, mana yang serius dan menunjukkan itu yang akan dipilih. Jadi walaupun sudah menjalin hubungan dengan Bapak yg cukup spesial, tapi karena jalur kuning belum melengkung, Ibu tidak menuntup kemungkinan untuk lelaki lain. Dia bersikap begini selain untuk mempelajari sikap lelaki, juga untuk menguji hatinya di pria mana Ibu sangat cinta. Singkat cerita Ibu pusing. Keempat laki laki itu karakternya baik, pekerjaan baik, semuanya sudah menunjukkan cintanya dan keseriusannya, Ibu harus segera memilih! 40 hari beliau akhirnya berpuasa. Dan hatinya, cintanya tidak beralih dari Bapak. Selama masa itu, Bapak tidak berusaha menonjolkan diri, dia bersikap sederhana, dia juga tidak gentar dalam keseriusannya. Maka Ibu memilih Bapak...

Setelah kisah ini berakhir Ibu berpesan, "nduk, pria yang benar benar mencintaimu pasti akan berjuang untukmu, untuk cintanya, karena itu nalurinya. Walau sang wanita sepertinya diam saja, dia akan terus berjuang menunjukkan cintanya dengan cara yang dimengerti pujaannya. Jadi jika suatu hari nanti ada pria yang serius denganmu, sudah pasti dia akan melakukan hal yg serius juga. Sesempit apapun waktunya, sesulit apapun kondisinya, jika pria itu sudah mantap, dia akan tetap berjuang! Ibu berdoa kamu menemukan pria itu."

Saya hanya bisa terdiam, percakapan ini seperti sebuah pesan mendalam untukku, juga sebuah teguran. Saya tidak sepantasnya menunggu pria yang saya tidak bisa lihat keseriusannya. Saya mau percaya Tuhan akan berikan pasangan yang terbaik, yang serius, pada waktuNya, yang mungkin belum sekarang.

Hmmm, setelah kemarin masalah pria yang baik dengan semua org, skrg pria yang kurang serius. Yang sabar ya ta.. :)

Belas Kasihan

dr. Prasarita Esti Pudyaningrum Hidup di dunia penuh tuntutan, target tinggi, dan penuh dengan ekspektasi melampaui batas dari orang lain ...