Selasa, Februari 06, 2018

Ya Sudahlah...

Memang benar kalau suka atau disukai dengan seseorang yang baik dengan semua orang, hangat dengan semua orang itu SULIT! Kita tidak pernah tau kapan sikapnya berbeda ke kita, karena dengan semua orang dia baik! Hal ini menjadi lebih sulit ketika...

Aku bukan tipe perempuan yang bisa menyampaikan perasaanku di depan orang. Aku tegas, berwibawa dalam organisasi (katanya), cukup profesional dan 'cak cek' untuk sebuah pekerjaan. Tapi aku menyadari aku tidak tegas dengan perasaanku, dengan hatiku. Pengalaman tidak pernah pacaran dan tidak pernah merasa kurang kasih sayang mungkin. Aku tidak pernah tahu bagaimana mengutarakan perasaan. Bagaimana mengatakan dengan cara yang baik tapi tidak memalukan, bagaimana mengutarakan dengan sikap dan tindakan, itu hal yang aku perlu pelajari. Itu sesuatu yang sulit juga untukku. Aku terbiasa untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya. Karena di keluarga keraton, marah tidak boleh nampak marah, senang juga tidak boleh terlalu senang. Itu pelajaran yang selalu diajarkan di rumah. Padahal aku aslinya sanguin sekali, alias rame banget. Lagipula di rumah aku merasa sangat disayang, perhatian dari orang tua dan adik semata wayang sudah sangat cukup bagiku. Jadi sering kali aku merasa aku belum butuh perhatian dari orang lain. Dan parahnya kalau ada orang lain yang perhatian denganku, aku menganggap itu wajar karena kita sesama manusia yang saling tolong menolong. Aku tidak mengerti bagaimana nanti pasanganku menunjukkan perasaannya sampai bisa membuat ku mengerti. Semoga dia cukup sabar dan mau membantuku mengerti bagian ini.

Apalagi ketika laki laki itu adalah orang yang baik dengan semua orang, aku akan merasa bahwa dia tidak ada perasaan apapun dengan ku. Aku tidak bisa membedakan sikapnya itu apakah hanya untukku atau juga dengan semua orang. Walaupun akupun juga baik dengan semua orang, tapi ada beberapa sikap yang memang aku simpan hanya untuk laki laki yang aku suka. Misalnya, aku tidak akan menegur laki laki saat dia salah ketika aku tidak suka dengannya. Aku akan membiarkannya, karena bagiku dia bukan siapa siapa untukku. Aku juga tidak akan menceritakan kesedihanku kepada laki laki. Hanya sering kali aku tidak tahu kapan aku diperlakukan spesial oleh laki laki. Parah sekali ketidakpekaanku.

Jadi ketika sekarang, aku suka dan sudah nyaman dengan seorang pria, yang notabene dia baik dan hangat dengan semua orang, aku bingung! Aku suka dengan caranya memperlakukan banyak orang. Tapi aku tidak tahu kapan dia memperlakukanku spesial. Apalagi aku tidak bisa mengutarakan perasaanku. Jadi pilihannya kalau bukan mengatakannya ya menunggu galau berkepanjangan. Tapi kalau memang makan waktu, lebih baik saya berlalu saja. Aku juga punya banyak hal yang bisa aku kerjakan. Karena inilah saatnya aku melakukan semua hal yang sudah kupelajari dan doakan.

Jodoh tidak kemana. Jodoh juga merupakan penolong dari Tuhan untuk kita. Aku percaya dia akan menerimaku apa adanya dan bisa memahami sikapku.

Jadi ingin tertawa sendiri, dulu pernah berdoa minta pria yang baik, eh setelah ketemu malah baiknya ke semua orang sampai ga tau aku spesial atau tidak. Ya sudahlah...

Senin, Februari 05, 2018

Perempuan Butuh Kepastian

Saat aku kuliah kedokteran satu hal yang aku syukuri adalah memiliki beberapa teman baik, tidak hanya dari sesama mahasiswa tapi juga dari dosen. Salah satu dosen yang masih dekat sampai hari ini adalah dr. Nyoman Suci, Sp. PK. Beliau sangat lucu dan ramai. Hahahaha.. Kalau ketemu beliau aku seperti bertemu kakak perempuan tertuaku.. Beliau selain ramah dan lucu juga sangat pintar. Beliau lah yang menguatkan hatiku saat aku menangis di kantornya tentang diagnosis thalasemia. Dan hari ini aku ingin menceritakan sebuah cerita tentang hidupnya.

Bu Suci, begitu kusapa dia, memang memiliki perawakan membumi sejak kuliah. Dia memang dikenal sebagai mahasiswa yang aktif, pintar dan ramai. Semua orang mengenalnya begitu. Tak heran jika ada beberapa laki laki yang mengaguminya diam diam. Padahal waktu itu beliau juga sudah memiliki pacar. Waktu terus berlalu, akhirnya beliau sampai juga di percoassan. Satu cerita yang beliau ceritakan ini benar benar tidak bisa aku lupakan. Saat itu beliau sedang jaga malam. Bu Suci sudah memiliki pacar sebelumnya, yang aku pun tidak jelas siapa. Tapi entah mengapa malam itu, teman seangkatannya, yang saat itu juga sedang jaga malam bersama, menghampirinya. Berbicara beberapa kalimat lalu menanyakan sesuatu. "Suci, kamu mau menikah denganku?" HAAAA! Sontak Bu Suci kaget! Tapi pada saat menceritakannya beliau tertawa terbahak bahak. Bu Suci heran sekali, pacaran aja tidak pernah langsung mengajak nikah. Bu Suci lalu bingung lha nasib pacarku bagaimana. Beliau hanya bertanya ke laki laki, "Apakah kamu serius?", laki laki itu berkata, "Ya."

Lalu Bu Suci kemudian mencari cara memberitahu pacarnya. Beliau akhirnya menanyakan keseriusan pacarnya, karena sekarang ada laki laki yang mengajaknya menikah. Ternyata pacarnya belum terlalu serius. Padahal sudah beberapa waktu mereka pacaran, tentu tidak sebentar. Singkat cerita Bu Suci menerima pinangan teman seangkatannya dan masih romantis sampai hari ini. Beliau berdua sekarang menjadi dosen saya di Fakultas Kedokteran Undip.

Dari cerita ini, aku merasa bahwa perempuan hanya butuh kejelasan. Tidak peduli sudah berapa lama mengenal, tapi jika tidak ditantang satu pertanyaan itu, maka selamanya semua kenangan itu hanya untuk dikenang saja. Saat ini aku sungguh merasakannya. Ketika ada laki laki yang kemudian berani meminang, dan memang dia tidak parah sekali hidupnya, tentulah akan kuterima. Aku ingin hidupku sempurna, merasakan sebuah pernikahan dan memiliki anak kelak. Mengingat usia, aku merasa sudah saatnya memiliki calon suami. Karena perempuan hanya butuh kepastian!

Sabtu, Oktober 21, 2017

BELAJAR

Hari ini aku merasa bersyukur karena dokter pembimbingku puas dengan hasil pekerjaanku. Hasil akhirnya benar, dan sesuai dengan kemauan beliau. Wah, kalau begini bisa dipercaya pasien lainnya. Puji Tuhan.. Semoga dengan ini saya bisa cepat pulang ke Semarang.

Pengalaman di Bekasi dan RSPAD benar benar membahagiakan. Saya merasa dapat banyak ilmu dan bisa diterapkan semuanya. Dokter dokternya tidak pelit ilmu, apapun yang saya tanyakan pasti dijawab dengan baik dan lengkap. Berbeda ketika saya koas dulu. Sungguh saya merasa banyak ilmu yang drahasiakan dan saya harus belajar sendiri. Puji Tuhan karena di sini berbeda.

Sikap tenaga medis yang seperti ini sanat dibutuhkan oleh banyak pengajar. Dengan tujuan tidak menjerumuskan anak didik, dan akhirnya banyak terapi yang benar diberikan kepada masyarakat. Angka malpraktik akan menurun karena setiap dokter mumpuni dan berkualitas. Tapi seringkali yang didapati banyak dosen yang arogan dan egois, tanpa merendahkan siapapun. Arogan dalam artian merasa hanya beliau yang paling benar, padahal bisa jadi mahasiswanya baru saja membaca jurnal terbaru dan ada revisi dari ilmu medis yang lama. Egois di sini artinya dia tidak mau membagi ilmu karena jika mahasiswanya mnjadi pintar maka semua pasien akan berpindah ke mahasiswa ini dan akhirnya pendapatannya berkurang. Tapi di atas itu semua saya menghormati setiap dosen saya, karena tanpa mereka saya juga tidak bisa menjadi seperti sekarang. Namanya juga manusia banyak yang berbeda beda. Mari melihat bagian ini dengan pandangan bahwa tanpa dosen seperti itu, saya juga tidak mungkin menjadi tekun dan memilliki daya juang dan daya ingin tahu yang besar.

Di atas itu semua, kita memang harus terus belajar, dari manapun sumbernya. Karena dengan cara seperti itu kita menjadi lebih bijak. Semakin saya belajar, semakin banyak yang saya tidak tahu.
Selamat belajar!

Selasa, Oktober 17, 2017

Thalasemia Part 3

Yah sel darah saya saat ini ada banyak yang rusak. Kalau orang lain bulat bulat, saya ada yang pecah, berbentuk bulat sabit, ada yang seperti bintang, sel target, seperti bola golf, dan lain lain. Jadi indah yah? Padahal kalau tinggal kurang dari 30% pasti bleeding. Hahaha.. Saya tidak pernah menceritakan hal ini kepada keluarga besar saya, karena pernah terucap begini kepada saya, "Ta, kalau pilih suami dicek bener bener dari gen yang terbaik, tau tau thalasemia kan ga lucu!" Gimana rasanya hayo kamu dibilang seperti itu padahal kamu sendiri penderitanya? Saya ekstrovert yang introvert berkat ini. 😆 Di sini saya hanya berusaha menceritakan apa adanya, tidak ada yang ditambah, tapi sebenarnya banyak detail yang saya lupa. Saya juga tidak sedang meratapi nasib. Kebetulan saja mungkin menurut orang lain nasib saya kurang beruntung. Berat memang awalnya, tapi karena ini saya makin tau rasanya berempati. Saya tetap akan kuat, karena ada kekuatan dari surga yang menguatkan. Dan saya akan tetap bahagia, karena ada ribuan berkat lain yang saya terima. 

Semoga aku diberikan umur panjang, sehingga kalau Tuhan anugrahkan kluarga, aku bisa mengurus dan mendidik anak2ku kelak. Gilanya, saya pgn punya 4 anak! Hahaha..


Demikianlah sharing panjang tentang perjuangan menerima kondisi ini. Proses dari Tuhan yang panjang membentuk saya untuk tidak mudah mengeluh. Semoga saya bisa jadi orang yang lebih baik. 

Thalasemia Part 2

Hari itu, saya langsung sms mb Lusi. Aku percaya dia tau betapa patah hati ini. Karena dia sndri didiagnosis MVP (mitral valve prolapse). Dia berusaha menghibur dua hari setelah itu. Tapi tetap tidak membuahkan hasil. Saya tetap menangis. Orang tua saya shock! Dan laki laki yg mendekati saya waktu itu mundur pelan pelan. So perfect! 

Sampai akhirnya, dengan segala air mata dan keputusasaan, malam itu saya berdoa. "Tuhan apa kehendakMu memberi saya ini?"
Indah kataNya. Ini bukan kesalahan atau dosa dari saya atau orang tua saya atau nenek buyut saya, tapi supaya kehendakNya nyata dalam hidup saya. 

Berangsur angsur saya mulai menatap hari esok kembali. Saya memberanikan diri menemui dr Suci kembali. Ternyata butuh dua bulan untuk melakukan ini.

Saya konsultasi dan kembali menangis. Di situ beliau menjelaskan tentang penyakit ini. Akan ada masa satu kali seumur hidup saya perlu transfusi. Tapi jika saya bisa menjaga kondisi tubuh, saya bisa tidak mengalaminya. Saya juga harus berhati hati saat hamil dan persalinan kelak. Untuk persalinan normal pasti kurang lebih keluar darah 500cc dan persalinan caesar 1000cc alias satu liter. Saya harus punya stock darah. 

Dan pasangan saya harus tau tentang ini. Dia tidak perlu cemas karena ini tidak menular. Tapi memang alangkah baiknya jika dia memeriksakan diri juga. Dengan harapan gen terbaik yang akan diwariskan. Yap, thalasemia bisa diturunkan. Dan tentu ini bukan bibit yang baik. Kalau calon mertuaku tau ttg thalasemia mgkn aku jg bakal ditolak. Haha.

Aku masih percaya mukjizat. Bukan utkku, karena ini tidak bisa sembuh. Aku percaya utk anak anakku kelak. Mreka tidak dapat gen ini. 

Hal ini membuatku menutup diri cukup lama utk laki laki. Saya tidak bisa berbohong. Tapi saya juga lelah mengalami banyak penolakan. Mereka yang mendekati saya, tapi ujung ujungnya mereka juga yang pergi. Saya tidak bisa berharap banyak. Karena memang seperti inilah. Saya percaya hanya laki laki yang takut akan Tuhan yg bisa menerima saya apa adanya. Sayangnya belum ada yang saya dapati begini. Saya akhirnya bersikap tidak jelas. Takut memberi harapan, padahal setengah mati merindu. Hahaha. I will never give my best. 

Sakit ini tidak mengerikan, tapi kalau kumat sangat melemaskan. Yah hidup tidak ada yang sempurna. Terkadang saya heran dengan orang orang yang sangat ambisius dengan sesuatu. Seakan akan mereka pantas memiliki semuanya. Padahal semakin ambisius, seringkali banyak yg terlewat. Yah, ak pernah seperti itu. Dan saya bersyukur bisa mengalami pelajaran berharga. Hidup ini tidak sempurna. Tidak semua yang terbaik bisa kita dapatkan. Tapi selama kita mau belajar dan mengasihi apa yang ada, kita dapat banyak dari yg sudah kita punya. 

Minggu, Oktober 15, 2017

Thalasemia Part 1

Kadang aku nangis, karena inget punya sakit ini. Apalagi pas kumat, dan darah yg ditelen. Tidak tahu bagaimana, tapi otomatis ga cuma darah yg mengalir, tapi jg air mata. Ditambah kalau tulang belakang sakit semua, aku tau it pertanda sel darah merahku butuh banyak dibuat. Alias banyak yg rusak. Somehow ga semua orang bisa mengerti ini. Hal ini membuatku enggan bercerita dan kurasakan sendiri. Aku bersyukur karena bukan keganasan, walau memang tidak bisa sembuh. Aku bersyukur di tengah air mata, ada kekuatan yang tidak tahu dari mana kurasakan. 

Perjalanan ini dimulai saat semester empat. Tita, dengan riwayat suka lemes, gampang capek, sering di 'underestimate' karena banyak alasan utk kabur. Hari itu, hari Kamis. Kami praktikum memeriksa tentang sel darah. Setiap mahasiswa belajar mengambil darah temannya. Aku belajar mengambil darah atau sampling, dan aku jg diambil darahnya. Jujur aku lupa siapa yang mengambil darahku. Yang pasti setelah berhasil sampling, kami belajar mengecat preparat darah hapus kami dan belajar menganalisisnya di bawah mikroskop. Saat kami melakukan analisis ini, dosen pembimbing kami, dr Wayan Suci Sp.PK datang. Beliau baik sekali dan sedang bahagia. Tapi moodnya berubah ketika melihat salah satu mikroskop kami. Dia kaget! Lalu sedikit berteriak, "Ini darah siapa?", "Siapa yang pakai mikroskop inj?" Kami bingung. Kami pkir kami buat salah. Lalu teman kami, Icha, mengangkat tangannya dan menjawab, "saya dok, dan it darahnya Tita." Kontan, dr Suci langsung memanggil saya. "Tita lihat sel yang saya tunjuk!", perintah beliau. Lalu saya lihat. Saya tidak tahu it sel apa. Karena baru kali itu saya melihatnya, sel yang kemudian tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Setelah it, dr Suci duduk lemas. Dia tidak berbicara sedikit pun.


Seminggu kemudian saat responsi, dr Suci dan 15 mahasiswa termasuk saya, membahas tentang sel asing yang kami belum tahu. Oh iya, dr Suci saat itu sedang mengambil disertasi tentang thalasemia. Di siang bolong it, dr Suci mengatakan dengan sedih di hadapan 15 mahasiswa, "itu adalah sel penanda thalasemia." Tentu yg lain kaget! Saya? Saya rasanya mau mati saja! Rasanya seperti ada petir menyambar di kepala! Saya hanya bisa terdiam. Malu! Ada 30 telinga mahasiswa saat itu. 

Rabu, Maret 29, 2017

AKU DIBUAT NOL OLEH TUHAN

Dengan terisak dalam doa, "Tuhaaaaan, mengapa ujian ini tidak selesai selesai?"

Entah mengapa dalam tiga bulan ini, hidup Klara terasa seperti sedang digilas. Banyak kejadian menyesakkan yang terjadi dan menguji iman. Rasa rasanya alam seperti ingin melihat masih bisakah dia melihat kebaikan Tuhan dalam setiap ujian yang dihadapinya. Semua bermula saat jas hujannya hilang.

Malam akhirnya datang bersamaan dengan lelahnya tubuh karena pasien datang tak henti di jam jaga siang itu. Klara bersama tim sampai sangat sering terdengar saling bertukar semangat untuk saling menguatkan satu sama lain. Akhirnya jam jaga itu selesai juga dan bisa istirahat. Tapi tak beruntung malam itu si Klara. Ketika dia hendak pulang saat mengambil motornya, dia kaget karena jas hujannya raib. Puji syukur malam itu tidak turun hujan jadi dia tidak kehujanan sampai ke kos. Tapi ada hujan deras bercampur petir dalam hatinya, jas hujan basah yang diletakkan di motor bisa bisanya diambil tanpa izin alias dicuri. Separah inikah masyarakat? Malam itu dia pulang dengan marah dan rasa lelah luar biasa tapi tak bisa berbuat apa apa. Akhirnya dia istirahat berusaha memaafkan apa yang terjadi. Tapi keapesan belum selesai, esoknya vertigonya kumat, dan dia harus terkapar saat jaga siang hari itu.

Kepadatan waktu kerja dan kelelahan membuat rasanya ingin berlibur dengan senang tapi memang sepertinya Klara belum diizinkan mengalami itu. Liburan berlangsung dan berakhir dengan keluh kesah karena banyak alasan dan dari banyak orang. Kembali bekerja masih dengan suasana suntuk tapi berjuang untuk tetap mensyukuri apa yang ada.

Tapi apa ada, setelah tahun baru, banyak sekali pasien bahkan sampai 40 pasien dalam satu shift, itu memperburuk kondisi tubuh Klara. Singkat cerita akhirnya dia jatuh sakit sampai harus menginap di Rumah Sakit. Klara yang adalah seorang dokter, merasa panas tubuhnya meningkat saat jaga malam. Sampai akhirnya dia mengukur suhu tubuhnya sendiri dan mendapati suhunya mencapai 40 derajat Celcius! Karena itu dia memutuskan darahnya diambil untuk melihat apa hasilnya. Dan benar ada tifoid! Dia perlu mondok untuk mempercepat proses penyembuhan walaupun awalnya dia berpikir untuk dipasang infus saja di kos. Tak mungkin kan terpasang infus lalu keluar berjalan ke warung untuk membeli nasi campur? Hahaha akhirnya diputuskan untuk mondok saja.

Tapi sepertinya musibah belum juga selesai! Beberapa hari sebelum ulang tahunnya dia ditipu orang sampai tabungan yang dia punya yang awalnya Klara kumpulkan untuk sekolah hilang oleh penipu itu. Dua puluh satu juta hilang meninggalkan perasaan kecewa karena terlalu bodoh seperti itu. Pelajaran besar sekaligus meninggalkan pertanyaan, "Tuhan apa yang salah dengan saya? Mengapa hidup saya berjalan begitu pahit akhir akhir ini?" Kado perih yang menjadi pelajaran berat saat ulang tahun. Sampai kapankah keluguan dan perasaan mudah percaya ini dimanfaatkan oleh orang lain?

Belum hilang perih itu, akhirnya dia mendapat ujian lagi dalam hal keprofesionalitasannya. Sampai sampai Klara harus menceritakan sebuah kronologis waktu jaga yang ceritanya sudah diganti alias Klara difitnah hingga nampak bersalah.

"Tuhan mengapa ujian ini tidak selesai selesai?"
"Mengapa Engkau izinkan hal hal buruk ini terjadi beruntun?"
"Apa pelajaran yang sedang akan aku dapatkan?"
Satu yang Klara pikirkan, dia tidak boleh merasa trauma dengan berusaha memaafkan semua hal yang terjadi. Berusaha membesarkan kapasitas hati! Berusaha melihat bahwa kebaikan Allah masih jauh lebih besar dibanding semua masalah ini. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa hati ini terasa lelah. Daya sudah tak ada. Bahkan untuk bangkit itu terasa susah. Takut takut akan mengalami hal hal buruk lagi, bagaimana jika tetap terkapar saja?

Tapi mungkin pengalaman ini mengajarkan, sebagai manusia Klara harus belajar mengandalkan kekuatan Tuhan. Klara harus dinolkan supaya mengerti dia tidak punya kekuatan cukup untuk tetap kuat setiap harinya. Sampai akhirnya Klara bisa berkata "jika hidup ini berlangsung semua memang hanya karena Dia!"

Akhirnya, Klara berkata dalam hati kecilnya, "kamu tidak sendiri, mari kita hidup tidak dengan anggapan kita kuat, karena kita harus mengandalkan kekuatan dari Tuhan selamanya."

Belas Kasihan

dr. Prasarita Esti Pudyaningrum Hidup di dunia penuh tuntutan, target tinggi, dan penuh dengan ekspektasi melampaui batas dari orang lain ...